Artikel

Doa‑baca untuk Dipenuhi di dalam Roh

19 Jul 2026
6 menit baca

Yohanes 15꞉7

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman‑Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.


CARA PRAKTIS UNTUK MEMILIKI TUHAN TINGGAL DI DALAM KITA

Yohanes 15꞉4 mengatakan, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” Dua butir dengan jelas dibahas dalam ayat ini꞉ tinggal dan berbuah. Tinggal adalah untuk berbuah. Ayat 7 mengatakan, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman‑ Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Dalam ayat 7 ada perubahan dalam perkataan Tuhan. Ia tidak mengatakan, “Aku di dalam kamu” (ayat 4), melainkan berkata, “firman‑Ku tinggal di dalam kamu” (ayat 7). Dalam ayat 4, Tuhan yang tinggal di dalam kita, tetapi dalam ayat 7 firman Tuhan yang tinggal di dalam kita. Melalui membandingkan kedua ayat ini, kita dapat menemukan cara untuk memiliki Tuhan tinggal di dalam kita. Tuhan tinggal di dalam kita melalui firman‑Nya yang tinggal di dalam kita. Cara praktis supaya Tuhan tinggal di dalam kita adalah menerima firman‑Nya. Berdoa supaya Tuhan tinggal di dalam kita mungkin misterius dan abstrak. Tetapi jika kita memiliki firman Tuhan tinggal di dalam kita, tinggalnya Tuhan akan menjadi riil dan praktis.


PERKATAAN KRISTUS ADALAH ROH YANG HIDUP

Kolose 3꞉16 memberitahu kita bahwa ketika perkataan Kristus tinggal di dalam kita, kita dapat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan menyanyi bagi Allah. Ayat‑ayat yang serupa dalam Efesus 5꞉18‑19 mengatakan bahwa ketika kita dipenuhi di dalam roh, kita akan berbicara kepada satu sama lain, menyanyi dan bermazmur bagi Tuhan. Melalui membandingkan kedua bagian ini, kita menyadari bahwa memiliki perkataan Kristus dengan limpahnya tinggal di dalam kita tidak lain adalah dipenuhi di dalam roh kita (Ef. 6꞉17; Yoh. 6꞉63). Ketika kita memiliki firman Kristus berhuni di dalam kita, kita dipenuhi bukan hanya dengan firman, tetapi juga dengan Roh, sebab firman Kristus adalah Roh. Memiliki firman Kristus di dalam kita adalah memiliki Roh di dalam kita.


FIRMAN ADALAH PERWUJUDAN KRISTUS SEBAGAI ROH ITU

Kita dapat mengilustrasikan fakta bahwa firman adalah Roh itu melalui menggunakan korek api sebagai contoh. Korek api mengandung unsur kimia yang disebut fosfor. Maka, korek api dapat dikatakan perwujudan fosfor, yang adalah substansi utama korek api. Substansi yang demikian menyalakan dan memberi terang melalui membakar kepala korek api yang digesekkan pada permukaan yang kasar. Untuk mendapatkan api dari korek api, fosfor harus diwujudkan dalam korek api, dan korek api harus digesekkan pada permukaan yang tepat. Api tercakup dalam fosfor, dan fosfor diwujudkan dalam korek api.

Sekarang mari kita terapkan ilustrasi ini. Firman Allah dalam Alkitab (korek api) adalah perwujudan Roh (fosfor). Di dalam Roh ini ada hayat (Rm. 8꞉2), yang dapat dibandingkan dengan api dalam korek api. Sama seperti korek api adalah perwujudan fosfor, Alkitab adalah perwujudan Roh itu. Sama seperti api ada di dalam fosfor, hayat ada di dalam Roh itu. Korek api, fosfor, dan api adalah satu. Demikian juga, Alkitab, Roh itu, dan hayat adalah satu. Namun, ketika kita membaca Alkitab, mungkin kita tidak dapat “menangkap api ilahi”. Kita mungkin telah membaca Alkitab bertahun‑tahun, tetapi kita tidak pernah mengalami “api” apa pun. Masalahnya adalah kita menggesek korek api secara salah dan pada tempat yang salah. Kita tidak menggesek Alkitab pada roh kita, malah menggesek Alkitab pada mentalitas kita. Alkitab adalah perwujudan Roh itu, dan Roh itu adalah esensi, substansi Alkitab, sama seperti fosfor adalah substansi esensial dari korek api. Apakah Anda “menangkap api ilahi” ketika Anda membaca Alkitab? Saya khawatir, sering kali Anda tidak mendapatkannya. Alasannya adalah Anda mengontak firman Allah dengan organ yang salah dan cara yang salah. Mempelajari korek api adalah cara yang salah, dan menggesekkan korek api pada permukaan yang salah juga salah. Jika saya berhenti mempelajari korek api dan menggesekkannya pada permukaan yang benar, api akan menyala. Kita harus belajar sederhana; kemudian kita akan menangkap “api” dalam firman. Maksudnya, kita harus menggesek Roh Alkitab dengan roh kita untuk menangkap api ilahi.


FIRMAN BUKAN HANYA UNTUK PENGAJARAN, TETAPI JUGA UNTUK PERAWATAN

Satu Timotius 4꞉6 mengatakan, “Dengan selalu mengingatkan hal‑hal itu kepada saudara‑saudara seiman kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik (terawat) dalam pokok‑pokok (perkataan) iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kau ikuti selama ini.” Seorang saudara terkasih memiliki istri yang sangat baik tetapi sangat menyusahkan. Hampir setiap pagi, setelah si suami datang ke meja makan untuk sarapan pagi, si istri segera mengeluh. Saudara itu tidak tahan mendengar keluhan istrinya. Setelah tiga atau empat menit mendengarkan keluhannya, dia segera marah. Dia tahu bahwa amarahnya salah. Suatu pagi, dia membaca 1 Korintus 13꞉4 dan 7, yang mengatakan, “Kasih itu sabar ... la menahan segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” Dia berpikir bahwa pengajaran dari Alkitab ini akan membantu dia menanggulangi amarahnya. Berikutnya ketika sarapan pagi, istrinya mulai mengeluh lagi. Dia menghafalkan ayat‑ayat itu bagi dirinya. Namun, hal ini tidak menghentikan keluhan istrinya. Akhirnya, dia memutuskan tidak menghabiskan makanannya dan meninggalkan meja makan. Dalam batin, dia sangat tidak gembira. Jenis pengajaran dari Alkitab ini tidak melakukan apapun untuk memenuhi dia dengan sukacita dan menguatkan dia untuk mengalahkan amarahnya. Belakangan, saudara ini belajar untuk menerima perkataan Tuhan sebagai perawatan dan bukan pengajaran semata. Dia mendoabacakan Matius 1꞉2꞉ “Abraham mempunyai anak Ishak, Ishak mempunyai anak, Yakub; Yakub mempunyai anak, Yehuda dan saudara‑saudaranya.” Ayat ini tidak mengajarkan saudara itu segala sesuatu tentang kasih; tetapi, semakin dia mendoabacakan ayat ini, dia semakin dipenuhi dengan Tuhan dan sukacita. Hari selanjutnya ketika dia sarapan pagi, istrinya mulai mengeluh lagi. Saat itu, respons saudara itu berbeda, karena dalam batinnya dia tersuplai oleh Tuhan dan tidak disusahkan oleh keluhan istrinya. Cara hayat bukan belajar pengajaran alkitabiah, melainkan menerima Kristus melalui menerima firman‑Nya. Dia adalah segala sesuatu yang kita perlukan. Kita harus menganggap Alkitab sebagai buku hayat, bukan buku pengetahuan. Cara benar menerima firman Allah adalah melatih roh kita untuk doabaca.


PERAWATAN ADALAH UNTUK TUBUH

Untuk doa‑baca firman dengan tepat, kita perlu Tubuh. Alasannya adalah Tuhan sebagai makanan ilahi kita adalah untuk Tubuh, bukan hanya untuk anggota individual. Ketika kita melakukan doa‑baca bukan hanya sendirian, tetapi dengan beberapa anggota Tubuh, kita menjaga prinsip Tubuh. Ketika mempraktikkan doa‑baca secara korporat, kita perlu ingat empat kata꞉ cepat, pendek, riil, dan segar. Cepat adalah melupakan apa yang kita pikirkan. Kemudian doa kita harus pendek, karena doa panjang perlu disusun. Kita harus melupakan soal menyusun doa dan cukup mengucapkan satu frasa atau kalimat. Kita juga perlu riil; kita tidak seharusnya berpura‑pura. Akhirnya, kita perlu belajar segar. Cara terbaik menjadi segar bukan berdoa dengan perkataan kita sendiri, tetapi dengan perkataan Alkitab.


Sumber꞉ Doa Baca Firman, Bab 2