Artikel

Doa‑baca untuk Dibangun Menjadi Tubuh Kristus, Imamat, dan Gereja yang Mulia

16 Aug 2026
6 menit baca

1 Korintus 3꞉9

Karena kami adalah kawan sekerja untuk Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.
 

PEMBANGUNAN TUBUH

Bertumbuh dalam Hayat Melalui Minum dan Makan Firman

Dalam 1 Korintus 3꞉2 Paulus memberi tahu kaum beriman Korintus bahwa dia memberi mereka minum susu dan bukan makanan keras. Susu dan makanan keras mengacu kepada firman Allah sebagai suplai bagi kaum beriman yang dilahirkan Kembali supaya mereka dapat bertumbuh.  Ayat 6, yang berhubungan dengan ayat 2, mengatakan, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang menumbuhkan.” Ministri Paulus adalah menanam, Apolos menyirami mereka, keduanya berhubungan dengan hayat. Akhirnya, Allahlah yang menumbuhkan. Kita perlu menyingkirkan konsepsi usang kita tentang pemberitaan, pengajaran, dan pembinaan, serta menerima pemikiran baru mengenai menanam, menyiram, dan menumbuhkan. Kita harus mempertimbangkan bukan berapa banyak yang kita ketahui, tetapi berapa banyak Tuhan sebagai benih hayat dan suplai hayat telah tertanam ke dalam kita dan berapa banyak kita telah tersiram dalam hayat.


Mempertumbuhkan Kristus untuk Menghasilkan Tubuh

Satu Korintus 3꞉9 melanjutkan, “Karena kami adalah kawan sekerja untuk Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.” Sebagai ladang Allah, kita perlu disirami supaya kita dapat menumbuhkan Kristus secara korporat untuk menjadi Tubuh‑Nya. Selain itu, ladang adalah untuk bangunan. Di satu pihak, kita adalah ladang, di pihak lain, kita adalah bangunan. Sebagai ladang, kita perlu bertumbuh; sebagai bangunan, kita harus terbangun. Ayat 16 mengatakan, “Tidak tahukah kamu bahwa kamu sekalian adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” Banyak orang Kristen memisahkan ayat ini dan mengajarkan bahwa kaum beriman adalah bait Allah, tetapi dimanakah bait ini hari ini? Kita tidak melihat bait yang terbangun, malah hanya melihat batu‑batu yang berserakan. Ayat 2 membicarakan makan firman Tuhan; ayat 6 menyebutkan menanam, menyiram, dan menumbuhkan; dan dalam ayat 9 ada ladang Allah dan bangunan Allah. Akhirnya dalam ayat 16 ada bait. Bait berasal dari ladang dan bangunan, yang dihasilkan dari menanam, menyiram, melalui makan firman Allah.


Doa‑Baca Firman Adalah Cara Praktis bagi Pembangunan Gereja

Kita perlu perubahan radikal dalam konsepsi untuk tidak hanya memperhatikan soal mengetahui, mempelajari, dan memahami, bahkan lebih dari pada itu, minum dan makan firman, menganggapnya bukan hanya sebagai pengetahuan tetapi sebagai perwujudan Allah, Sang hidup. Kita harus menghampiri Alkitab dengan maksud menerima, makan, minum, menyerap, dan mengasimilasi Allah Tritunggal di dalam firman. Dengan cara ini kita akan bertumbuh, bukan secara individualistik tetapi korporat dengan orang lain dalam Tubuh. Menurut teks Yunaninya, kata “kamu” dalam 1 Korintus 3꞉9 dan 16 adalah jamak. Jadi, ladang dan bangunan dalam ayat 9 dan bait dalam ayat 16 mengacu kepada kaum beriman secara korporat. Kita adalah ladang Allah, bangunan Allah, dan bait Allah sebagai Tubuh korporat. Semakin kita bertumbuh melalui minum dan makan firman, dengan spontan kita bersatu dengan orang lain. Keesaan ini bukan hanya perkumpulan semata, tetapi perkara disatukan secara organik.


Dipenuhi dengan Roh Melalui Dibangunkan Bersama

Semakin kita terbangun bersama, kita semakin dipenuhi dengan Roh itu. Dalam Perjanjian Lama, Kemah dibangun dengan empat puluh delapan papan yang dibuat dari kayu penaga yang dilapisi dengan emas (Kel. 26꞉15‑30). Sebelum Kemah ditegakkan, kemuliaan Allah tidak ada di bumi, tetapi ketika Kemah dibangunkan sebagai rumah untuk diisi Allah, kemuliaan Allah turun dan memenuhinya (Kel. 40꞉34‑35). Jika empat puluh delapan papan tetap terisolasi, terlepas, dan terpisah satu sama lainnya, kemuliaan Allah tidak akan turun. Ketika semua papan dibentuk dan dipasang menjadi satu bangunan, maka kemuliaan Allah turun memenuhi Kemah. Cara terbaik bagi kita untuk dipenuhi dengan Roh Kudus adalah dibangunkan dengan orang lain sebagai rumah Allah yang unik. Jika kita tetap terpisah, terisolasi, dan individualistik, Roh itu akan sulit memenuhi kita, tetapi jika kita mau dibangunkan, kita akan dengan spontan dipenuhi oleh Roh itu.


Doa‑Baca Firman Melalui Melatih Roh untuk Membangun Kita dalam Keesaan

Orang Kristen telah mempelajari Alkitab bertahun‑tahun, tetapi mereka masih individualistik dan terpisah, dan tidak ada pembangunan di antara mereka. Jika kita menyingkirkan alasan alamiah kita dan berkumpul bersama setiap hari, membuka roh kita, dan mendoabacakan firman, kita akan dipenuhi dengan sukacita dan dengan Roh Kudus. Lalu semua pemikiran, opini, dan konsepsi yang berbeda akan diakhiri. Kaum beriman di Korintus memperhatikan pengetahuan dan menuntut karunia rohani, tetapi mereka akhirnya terpecah belah karena hal‑hal ini (1 Kor. 1꞉5, 7, 10‑11). Karena itu, Paulus mengatakan bahwa dia menanamkan Kristus ke dalam mereka, Apolos menyirami mereka agar bertumbuh, dan Allah menumbuhkan dengan cara menanam dan menyirami. Minum dan makan firman membuka jalan bagi Allah untuk masuk dan membantu kita bertumbuh dalam hayat. Kemudian melalui pertumbuhan ini kita dengan spontan terbangun bersama, sehingga ada bait Allah yang hidup dan praktis di antara kita.


IMAMAT

Menurut 1 Petrus 2꞉2, minum susu firman adalah untuk pertumbuhan kita. Seperti telah kita lihat, minum dan makan firman Tuhan adalah untuk pertumbuhan kita dalam hayat. Satu Petrus 2꞉5 mengatakan, “Biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus.” Sekali lagi, pemikiran Petrus mengenai memberi makan untuk pertumbuhan dan pembangunan adalah sama seperti pemikiran Paulus dalam 1 Korintus 3. Namun, Petrus menambahkan sesuatu dengan menyatakan bahwa bangunan ini, rumah rohani, adalah suatu imamat. Semakin sering kita mendoabacakan firman, kita makin terbangun dan berkoordinasi dengan orang lain secara spontan. Kita menikmati kepuasan yang penuh melalui doa‑baca dengan sekelompok saudara atau saudari. Dengan cara ini kita dengan spontan berkoordinasi dengan orang lain, dan pemikiran dan opini kita yang berbeda akan ditanggalkan. Dengan demikian kita akan menjadi imamat sejati, satu kumpulan imam.


GEREJA YANG MULIA

Efesus 5꞉25b‑26 mengatakan, “Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri‑Nya untuk menguduskannya, sesudah la menyucikannya dengan memandikannya (membasuh) dengan air dalam firman” (Tl.). Tuhan merampungkan pengudusan melalui membersihkan gereja oleh pembasuhan air dalam firman. Kata Yunani yang diterjemahkan “membasuh” dalam ayat 26 adalah kata yang sama untuk “bejana pembasuhan”. Membasuh gereja dengan air dalam firman sama dengan pembasuhan para imam di bejana pembasuhan yang terletak di luar pintu masuk Kemah. Dalam firman Allah ada air bukan saja untuk memuaskan dahaga kita, tetapi juga untuk membersihkan kita.

Ayat 27 melanjutkan, “Supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri‑Nya dengan cemerlang (mulia) tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.” Gereja seharusnya bukan saja tanpa kotoran tetapi juga tanpa cacat atau kerut. Cacat menandakan sesuatu dari hayat alamiah, dan kerut berhubungan dengan keusangan. Cacat dan kerut dari alamiah kita tidak dapat dibasuh oleh air luaran, melainkan hanya melalui pembasuhan metabolik oleh air hayat dalam firman. Pembasuhan ini membuang semua unsur usang dalam hayat alamiah kita dan menggantikannya dengan unsur baru dari hayat ilahi. Dengan cara ini gereja bukan saja menjadi bersih, tepat, dan sempurna tetapi juga mulia. Firman Tuhan ini almuhit dan dapat memberikan kemuliaan kepada gereja. Melalui doa‑baca kita terbangun bersama, berkoordinasi sebagai kumpulan para imam, dan dibersihkan dari segala cacat dan kerut menjadi gereja yang mulia untuk memuaskan Tuhan.


Sumber꞉ Doa Baca, Bab 3