Yohanes 6꞉57
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.
Penekanan dari wahyu Alkitab mengenai hubungan Allah dengan manusia adalah pada pembauran Allah dengan manusia. Hal ini dapat dilihat dalam rujukan yang berulang‑ulang dalam Kitab Suci mengenai makan. Tidak ada sesuatu pun yang menjadi begitu benar‑benar satu dengan manusia selain dari makanan. Beberapa orang mungkin berpikir bahwa pakaian dapat menjadi satu dengan manusia, tetapi pakaian adalah sesuatu di luar tubuh manusia dan dapat ditanggalkan kapan saja. Namun, setelah makanan dimasukkan ke dalam diri manusia, makanan itu dicerna dan disalurkan ke seluruh tubuh untuk mempertahankan hidup. Oleh karena itu, makanan yang diambil ke dalam diri manusia tidak hanya tidak terpisahkan atau tidak dapat dibagi darinya, tetapi juga dibaurkan secara menyeluruh dan menjadi satu dengannya. Alkitab menggunakan makanan sebagai lambang dari hasrat Allah untuk dibaurkan dengan manusia.
Menurut catatan Alkitab, Allah, setelah menciptakan manusia, menempatkannya di sebuah taman di Eden, yang di tengah-tengahnya terdapat pohon hayat (Kej. 2꞉8‑9), yang menandakan Allah Sendiri. Penempatan manusia oleh Allah di hadapan pohon hayat menunjukkan bahwa Dia ingin masuk ke dalam manusia dalam bentuk makanan untuk menjadi hayatnya. Di seluruh alam semesta, hanya hayat Allah yang merupakan hayat yang sejati karena hanya hayat‑Nya yang kekal dan tidak dapat binasa. Hayat dari semua makhluk hidup lainnya hanyalah hayat ciptaan, yang dapat binasa dan akan berlalu. Hubungan Allah dengan kita dapat dibandingkan dengan hubungan kita dengan makanan. Kristus adalah Allah yang datang menjadi makanan hayat bagi manusia.
Dalam Yohanes 6꞉48 Tuhan Sendiri berkata, “Akulah roti hayat.” Walaupun Kristus memberitahu orang‑orang bahwa Dia adalah roti hayat, Yang turun dari surga dan memberi hayat kepada dunia (ay. 33, 35), mereka tidak mengerti apa yang dikatakan‑Nya (ay. 41‑42). Dalam ayat 51 sampai 54 Tuhan berkata, “Akulah roti yang hidup yang telah turun dari surga; jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama‑lamanya; dan roti yang akan Kuberikan itu ialah daging‑Ku, yang Kuberikan untuk hidup dunia... Jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah‑Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging‑Ku dan minum darah‑Ku, ia mempunyai hidup yang kekal.” Bukan saja orang Yahudi tidak mengerti apa yang dikatakan Tuhan, bahkan banyak murid-Nya mundur ke belakang (ay. 52, 60, 66). Menurut pemahaman manusia, Kristus adalah Mesias yang menjadi Juruselamat manusia (1꞉41). Namun, Tuhan berkata bahwa Dia datang sebagai roti untuk dimakan manusia dan sebagai minuman untuk diminum manusia. Perkataan ini sungguh sukar dipahami. Sebenarnya, hal‑hal yang diucapkan oleh Tuhan ini berasal dari kisah dan latar belakang Perjanjian Lama. Dia mengibaratkan Diri‑Nya dengan manna yang turun dari surga sebagai makanan bagi anak‑anak Israel, sebagaimana tercatat dalam kitab Keluaran (16꞉4; Yoh. 6꞉31, 49, 58).
Setelah seorang bayi lahir, ia harus makan dan minum secara normal agar dapat bertumbuh secara normal. Makan dan minum adalah urusan harian bagi kita. Kita tidak dapat makan dan minum hari ini lalu makan dan minum lagi setelah tiga hari. Tanpa makan dan minum, manusia tidak dapat bertahan hidup, tidak dapat pula hidup dan bekerja secara normal. Demikian pula, Tuhan tidak hanya telah mengampuni dosa‑dosa kita dan memberikan hayat‑Nya kepada kita, tetapi Dia juga ingin menjadi makanan, suplai rohani, dan kenikmatan kita. Karena itu, tidaklah cukup bagi seorang Kristen yang telah menerima pengampunan dosa dan hayat kekal hanya dengan menghadiri ibadah Hari Minggu secara teratur, berperilaku dengan baik, dan membantu orang lain dengan bersemangat. Ini bukanlah orang Kristen yang normal yang dinyatakan dalam Alkitab. Menurut wahyu dalam Alkitab, seorang Kristen yang normal harus makan, minum, dan menikmati Tuhan sebagai makanan bagi hayat rohaninya.
MAKAN TUHAN SEHARI‑HARI DAN HIDUP OLEH KARENA DIA
Banyak orang tidak memiliki pemahaman yang tepat mengenai Allah. Beberapa orang hanya berpikir bahwa Allah adalah Pencipta alam semesta, Penguasa berdaulat atas langit dan bumi, dan bahwa Dia ingin manusia menyembah, menghormati, dan melayani‑Nya. Beberapa orang yang lebih maju mengakui Dia sebagai Penebus dan Juruselamat dunia, Yang telah menjadi daging dan lahir ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari dosa‑dosa mereka, dunia, dan sebagainya. Namun, sedikit orang yang tahu bahwa Allah berhasrat menjadi makanan dan minuman untuk menyegarkan dan memuaskan dahaga mereka.
Tuhan Yesus berkata, “Akulah roti yang hidup yang telah turun dari surga; jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama‑lamanya” (Yoh. 6꞉51). Ini adalah pemenuhan dari diturunkannya hujan manna dari surga sebagaimana tercatat dalam Keluaran 16. Pada waktu itu orang‑orang Israel perlu keluar dan mengumpulkan manna untuk makanan mereka (ay. 4, 13‑19). Manna mewujudkan Kristus sebagai makanan bagi manusia. Karena kiasan ini, Tuhan berkata dalam Yohanes 6꞉57, “Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh karena Bapa, demikian juga barangsiapa yang makan Aku, ia juga akan hidup oleh karena Aku.” Saya ingin bertanya, “Apakah Anda telah makan Tuhan sampai kenyang hari ini?” Kekristenan sedikit sekali tahu tentang makan Tuhan, padahal hal ini secara jelas ada di dalam Alkitab, dan faktanya, Tuhan sendiri yang membicarakannya. Dia berhasrat agar kita makan Dia. Banyak orang Kristen lemah karena mereka tidak tahu bagaimana makan Tuhan. Sekarang saya ingin bertanya lebih jauh, “Seberapa sering Anda makan Kristus? Apakah Anda makan Dia setiap hari atau hanya seminggu sekali?” Ini adalah hal‑hal yang sangat praktis. Jika kita melihat seseorang kelihatan pucat dan kurus, kita menyadari bahwa ia mempunyai masalah dengan makanannya. Banyak orang Kristen telah mendengarkan khotbah sejak masa muda mereka hingga masa tua mereka, namun mereka masih lemah secara rohani. Ini karena mereka tidak pernah makan Kristus sampai kenyang. Saya berharap kita semua ingat bahwa Tuhan Yesus berkata, “Barangsiapa yang makan Aku, ia juga akan hidup oleh karena Aku.” Kita perlu makan Tuhan; maka kita akan hidup oleh karena Dia. Secara fisik, seseorang yang tidak makan dengan benar akan menjadi lemah dan lesu. Demikian pula, orang Kristen lemah karena mereka tidak makan dan minum Kristus setiap hari, tidak makan Dia sampai kenyang, atau sama sekali tidak tahu bagaimana makan Dia.
Semoga kita semua melihat maksud Allah dan menjadi orang‑orang yang makan dan minum Tuhan setiap hari. Kita juga perlu memberitakan pesan seperti ini kepada orang lain, dengan mengatakan kepada mereka, “Tuhan adalah roti hayat supaya kita dapat makan Dia.” Secara fisik, jika seseorang terlihat pucat dan kurus, lemah dan sakit, ia tidak membutuhkan teori atau ajaran, melainkan membutuhkan lebih banyak suplai makanan agar ia menjadi sehat. Demikian pula, banyak orang Kristen hari ini menghadiri kebaktian Hari Minggu dan teratur mendengarkan khotbah, tetapi mereka tidak makan, minum, dan menikmati Allah, dan sebagai akibatnya, mereka lemah secara rohani. Kita tidak membutuhkan lebih banyak pengetahuan Alkitab dan doktrin; kita membutuhkan kenikmatan akan Allah sebagai suplai hayat kita. Hanya dengan membantu orang lain menikmati Allah, kita dapat membawa mereka ke dalam maksud‑Nya. Dengan cara ini mereka akan makan Kristus sampai kenyang, dipenuhi dengan suplai hayat‑Nya, dan memperhidupkan Kristus dengan penuh kuasa.
Sumber꞉ The Practice of Enjoying God by Eating and Drinking Him, CWWL, 1958, vol. 2, chp 2.