Artikel

Allah Rindu Menjadi Suplai Hayat Manusia agar Manusia Menjadi Ekspresi‑Nya

13 Sep 2026
6 menit baca

Yohanes 6꞉57

Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.
 

Mengapa Allah menciptakan roh di dalam manusia? Mengajukan pertanyaan semacam ini sama dengan bertanya mengapa Allah membuat lambung bagi manusia. Allah membuat lambung bagi manusia agar ia dapat menerima makanan. Setelah lambung kita menerima makanan, tubuh kita dipelihara olehnya, dan itu menjadi unsur tubuh kita. Dengan cara yang sama, agar manusia dapat menerima Allah sebagai unsurnya, Allah menciptakan roh bagi manusia. Sama seperti lambung di dalam manusia adalah untuk menerima makanan, demikian pula roh di dalam manusia adalah untuk menerima Allah. Allah, yang adalah Roh, ingin masuk ke dalam manusia untuk merawat manusia dan menjadi unsurnya, sama seperti darah membawa unsur‑unsur organik ke setiap bagian tubuh kita. Roh Allah masuk ke dalam kita untuk menyuplai seluruh keberadaan kita sehingga pikiran, emosi, tekad, pandangan, perasaan, kecenderungan, dan suasana hati kita akan memiliki unsur Allah. Dia ditransfusikan ke dalam seluruh keberadaan kita untuk menjadi suplai kita dan segala sesuatu kita sehingga kita akan dipenuhi sepenuhnya dengan unsur Allah. Dengan cara ini Dia akan mendapatkan ekspresi yang penuh melalui kita.


Konsep Alamiah Manusia yang Keliru mengenai Allah

Kita harus menyadari bahwa sebelumnya konsep kita mengenai Allah adalah alamiah, sesuatu yang keluar dari manusia dan bukan dari Allah. Pernahkah kita berpikir bahwa maksud hati Allah adalah masuk ke dalam kita untuk menjadi unsur kita? Dari masa lalu hingga saat ini, berapa banyak orang yang telah menyadari maksud hati Allah? Berapa banyak yang telah memahami maksud hati Allah? Konsep manusia mengenai Allah tidak lebih dari bahwa kita manusia ini rendah dan hina, sedangkan Allah itu kudus, terhormat, melampaui segalanya, ilahi, dan tidak terhampiri. Karena itu, kita harus sujud di hadapan‑Nya, merangkak kepada‑Nya untuk menyembah‑Nya, karena hanya dengan cara ini kita dapat sepenuhnya mengekspresikan rasa hormat kita yang tertinggi kepada‑Nya.

Kapan saja manusia berpikir tentang Allah, ia segera memiliki tiga konsep berikut꞉ Pertama, ia harus berlutut dan menyembah Allah. Kedua, ia perlu melayani Allah dengan menunggu di hadapan‑Nya sebagai seorang budak. Ketiga, ia harus melakukan banyak hal bagi Allah, seolah‑olah Allah tidak mampu melakukan apa pun dan karena itu membutuhkan manusia untuk melakukan hal-hal bagi‑Nya. Ketika seseorang tidak memiliki hati terhadap Allah, ia mengasihi dunia dan sepenuhnya mengabaikan Allah. Namun, setelah ia berbalik dan mulai berpikir tentang Allah, ia dipenuhi dengan konsep‑konsep manusia, yang semuanya salah dan bukan dari Allah.


Allah Mewahyukan Diri‑Nya sebagai Pohon Hayat dan Roti Hayat untuk Dinikmati Manusia

Untuk memahami konsep Allah, kita perlu datang kepada Alkitab, karena Alkitab adalah Firman Allah. Kejadian 2 mewahyukan bahwa setelah penciptaan manusia, Allah tidak meminta manusia untuk bersujud dan menyembah Dia sebagai Allah yang duduk di atas takhta yang jauh di surga. Sebaliknya, Allah menempatkan manusia di tengah‑tengah taman Eden agar ia menikmati segala sesuatu yang Dia ciptakan baginya (ay. 8‑9). Secara khusus, Allah menempatkan manusia di depan pohon hayat, yang melambangkan Allah sendiri sebagai hayat untuk menjadi makanan manusia.

Yohanes 1꞉4 mengatakan, "Di dalam Dia [yaitu, di dalam Allah, yang adalah Firman] ada hayat." Dalam 6꞉35 Tuhan Yesus berkata, "Akulah roti hayat." Allah menjadi manusia dan datang ke dalam umat manusia. Dengan demikian, Dia adalah roti yang hidup yang turun dari surga, dan Dia juga adalah roti hayat. Tuhan Yesus juga mengatakan bahwa barangsiapa makan Dia sebagai roti, ia akan hidup selama-lamanya (ay. 51) dan barangsiapa makan Dia, ia akan hidup oleh Dia (ay. 57). Dalam pasal 11 dan 14 Tuhan Yesus berkata bahwa Dia adalah hayat (11꞉25; 14꞉6). Dalam pasal 15 Dia lebih lanjut berkata bahwa Dia adalah pokok anggur (ay. 5). Tuhan adalah hayat dan pohon itu. Oleh karena itu, sebagai perwujudan Allah (Kol. 2꞉9), Dia adalah pohon hayat. Menurut deskripsi di atas, kita dapat memahami hubungan Allah dengan manusia. Allah tidak berada di tempat yang maha tinggi, memamerkan kuasa‑Nya agar manusia menghormati‑Nya dalam ketakutan dan menjaga jarak terhadap‑Nya. Sebaliknya, Allah datang kepada manusia dalam bentuk makanan untuk menjadi roti yang hidup, roti hayat, untuk dimakan manusia. Maksud hati Allah adalah agar manusia makan Dia, dengan demikian menerima hayat kekal dan hidup oleh Dia.


Menggunakan Roh Kita untuk Makan, Minum, dan Menikmati Allah dan dengan Demikian Menghidupkan Dia

Allah tidak menuntut manusia berlutut, menyembah‑Nya, atau melakukan sesuatu bagi‑Nya. Ini hanyalah konsep manusia untuk melakukan sesuatu bagi Allah agar memperoleh hayat kekal. Dalam Yohanes 6 Tuhan Yesus tidak meminta orang melakukan apa pun bagi Allah. Sebaliknya, Dia berkata bahwa Dia adalah roti yang hidup yang turun dari surga supaya manusia dapat makan Dia sebagai makanan dan dengan demikian menerima‑Nya ke dalam mereka. Dengan kata lain, kita tidak boleh berpikir bahwa kita perlu melakukan sesuatu bagi Allah. Sebaliknya, kita seharusnya sekadar makan dan minum Dia dan dengan demikian menerima hayat kekal‑Nya. Hayat ini akan secara spontan membimbing kita untuk memiliki suatu penghidupan yang menghidupkan Allah.

Hayat mencakup semua tindakan dalam penghidupan kita. Hayat burung memampukan burung terbang di udara. Karena itu, penghidupan burung tercakup di dalam hayat burung. Demikian pula, kita harus membiarkan hayat Allah di dalam kita memikul tanggung jawab atas penghidupan kita. Kita tidak perlu khawatir apakah dalam penghidupan kita, kita dapat memancarkan terang, menjadi kudus, atau mengasihi orang lain. Kita hanya perlu memedulikan apakah kita telah menerima hayat Allah atau belum. Ketika Tuhan menyuplai dan memelihara kita di batin agar kita dipuaskan di dalam, secara spontan, kita dapat menghidupkan suatu penghidupan yang terang, kudus, dan penuh kasih. Penghidupan semacam itu adalah pancaran hayat, ekspresi spontan dari hayat; itu bukanlah hasil dari upaya keras dan tekad manusia. Yang kita butuhkan hanyalah membiarkan Allah—yang adalah terang, kekudusan, dan kasih—untuk hidup di dalam kita dan hidup keluar dari dalam kita. Maka secara spontan, penghidupan kita akan menjadi terang, kudus, dan penuh kasih.

Kebutuhan kita yang sesungguhnya adalah menggunakan roh kita untuk menerima Allah ke dalam kita untuk menjadi hayat kita dan segala sesuatu kita, yakni, menjadi unsur dari batin kita. Hasrat manusia untuk menyembah Allah, melayani‑Nya, dan melakukan sesuatu bagi‑Nya menurut kemauannya sendiri sepenuhnya adalah konsep yang alamiah. Alkitab memperlihatkan bahwa maksud hati Allah adalah agar kita makan Dia sebagai makanan dan minum Dia sebagai minuman. Dia adalah kebutuhan orang lapar akan pemeliharaan hayat (Yohanes 6), dan Dia adalah kebutuhan orang haus akan pemuasan hayat (pasal 7). Dengan makan dan minum Tuhan, manusia dapat menerima suplai hayat dan dengan demikian berbaur denganNya menjadi satu entitas untuk menjadi ekspresi‑Nya.


Sumber꞉ The Practice of Enjoying God by Eating and Drinking Him, CWWL, 1958, vol. 2, chp 1.