“Sebab aku tidak malu terhadap Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya...”. (Roma 1꞉16)
KEBENARAN—KEKUATAN INJIL
Injil Allah yang diwahyukan dalam Kitab Roma memiliki kekuatan yang menyelamatkan karena di dalamnya kebenaran Allah dinyatakan untuk menghasilkan banyak putra. Meskipun Allah mengasihi manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, Dia tidak dapat mengampuni manusia secara tidak sah tanpa memuaskan tuntutan kebenaran‑Nya terlebih dahulu. Kasih dan anugerah bukanlah perkara hukum, sedangkan kebenaran merupakan perkara hukum yang sah dan menuntut. Oleh sebab itu, demi kebenaran‑Nya, Allah mengutus Kristus dalam keserupaan daging dosa untuk memikul seluruh penghukuman atas dosa manusia di kayu salib. Melalui kematian‑Nya, Kristus memenuhi seluruh tuntutan kebenaran Allah, dan kebangkitan‑Nya menjadi bukti atau "kuitansi pembayaran" resmi bahwa Allah telah puas. Karena kebenaran Allah telah dipuaskan oleh Kristus, Allah kini terikat secara hukum untuk mengampuni setiap orang yang percaya. Kebenaran Allah yang bersifat hukum inilah yang menjadi kekuatan sejati dari Injil keselamatan.
Kebenaran Allah merupakan pondasi takhta Allah sekaligus tumpuan keselamatan kaum beriman yang tidak tergoyahkan. Sementara perasaan manusia, kasih, atau anugerah tidak memberikan ikatan hukum, kebenaran Allah mengikat Allah secara mutlak pada ketetapan hukum‑Nya sendiri. Karena Kristus telah mati dan bangkit, Allah tidak dapat lagi mengubah pikiran‑Nya untuk menolak orang berdosa yang datang kepada‑Nya. Ketika hati nurani kita menyalahkan kita akibat kegagalan harian, kita tidak boleh mengandalkan kebaikan, perasaan, atau kegairahan diri sendiri. Sebaliknya, kita dapat berdiri teguh di atas tumpuan kebenaran Allah sambil memandang Kristus yang naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah. Selama Kristus berada di surga sebagai bukti resmi pembayaran atas seluruh hutang dosa kita, keselamatan kita tetap terjamin secara kekal dan sah di hadapan takhta Allah.
Selain kebenaran obyektif yang memberi kita posisi dan jubah pembenaran di hadapan Allah, terdapat pula kebenaran subyektif di mana kita disusun menjadi kebenaran Allah itu sendiri. Melalui proses transformasi yang dikerjakan oleh Roh, unsur dan sifat Kristus digarapkan secara bertahap ke dalam batin kita. Kita yang semula adalah pendosa sebagai keturunan Adam diubah secara organik sehingga seluruh manusia batiniah kita menjadi tepat dan selaras dengan Allah dalam segala hal. Pengalaman subyektif ini berjalan seiring dengan proses penyataan kita sebagai anak-anak Allah, di mana kebenaran bukan lagi sekadar penutup luar, melainkan menjadi substansi batiniah kita.
PEMILIHAN BERDASARKAN ANUGERAH
Injil Putra Allah di dalam Kitab Roma tidak hanya mencakup pembenaran dan pengudusan, tetapi juga menyingkapkan poin mendasar yaitu pemilihan berdasarkan anugerah. Berbeda dengan pemilihan manusia yang didasarkan pada kebaikan atau status lahiriah, pemilihan ilahi sepenuhnya berdasar pada Allah sendiri dan kerelaan kehendak‑Nya. Sebagaimana diilustrasikan melalui kisah Yakub dan Esau, Allah telah memilih Yakub sebelum mereka lahir dan sebelum melakukan hal baik atau jahat, agar rencana pemilihan‑Nya diteguhkan bukan berdasarkan perbuatan, melainkan berdasarkan panggilan‑Nya. Urutan ilahi ini dimulai dari pemilihan dan penentuan sebelum dunia dijadikan, yang kemudian diwujudkan melalui panggilan pada waktu yang ditunjuk. Oleh karena itu, keselamatan serta perjalanan rohani seorang beriman mutlak tidak tergantung pada kehendak atau usaha manusia, melainkan bergantung kepada belas kasihan Allah yang berdaulat. Kedaulatan belas kasihan Allah terwujud secara nyata melalui pengaturan‑Nya atas seluruh detail kehidupan kita, mulai dari waktu dan tempat kelahiran hingga momen kita beroleh selamat. Keberadaan kita sebagai orang percaya yang menempuh jalan Tuhan bukanlah karena kita lebih pintar atau lebih mencari Tuhan daripada yang lain, melainkan karena belas kasihan‑Nya yang mengendalikan. Bukti paling nyata dari pemilihan anugerah ini adalah ketidakmampuan orang terpilih untuk melarikan diri dari Tuhan; bahkan saat berusaha mundur, Allah tetap memegangnya. Belas kasihan ini juga bekerja sebagai penyekat ilahi yang menjaga kaum beriman dari daya pikat sistem dunia. Dalam pemberitaan Injil pun, tanggapan positif seseorang terhadap firman hayat merupakan pembuktian nyata dari pemilihan, penentuan, dan panggilan Allah sejak purbakala.
Menyadari kebenaran pemilihan anugerah ini membawa perubahan sikap hidup yang mendasar, di mana kita tidak lagi bersandar pada kekuatan, kehendak, atau rencana diri sendiri. Alih‑alih bergumul secara mandiri memikul kewajiban rohani yang sering mendatangkan kelelahan dan kepahitan batin, kita dipanggil untuk berlutut menyembah Allah atas belas kasihan‑Nya. Ketika kita belajar menyembah pemilihan Allah dan menikmati rahmat‑Nya, kita menemukan bahwa Tuhan sendiri yang memikul kita, sehingga batin kita dipenuhi sukacita dan rasa manis. Karena Injil ini adalah Injil anugerah dan bukan berdasarkan perbuatan manusia, kita belajar berpaling dari kondisi diri yang tidak stabil untuk senantiasa memandang kepada belas kasihan Allah yang kekal.
PELAKSANAAN KEHIDUPAN TUBUH
Pelaksanaan kehidupan Tubuh Kristus berakar pada proses keputraan, di mana kita melayani Allah di dalam Injil Putra‑Nya dan dinyatakan sebagai putra‑putra Allah melalui kuat kuasa kebangkitan. Untuk menjadi anggota Tubuh yang berfungsi tepat, kaum beriman harus ditransformasi dan diserupakan dengan gambar Putra Allah. Dalam Roma pasal 12, Paulus menyingkapkan bahwa kehidupan Tubuh yang riil membutuhkan tiga aspek praktis dari keberadaan manusia. Pertama, tubuh fisik kita harus secara nyata dipersembahkan kepada Tuhan sebagai bejana persembahan yang hidup demi kehidupan sidang gereja. Kedua, jiwa kita perlu mengalami transformasi melalui pembaruan pikiran agar kita tidak diserupakan dengan zaman ini, baik dunia sekuler maupun agama yang terorganisir. Ketiga, roh insani kita harus dikobarkan hingga menyala‑nyala. Tanpa tubuh yang dipersembahkan, jiwa yang ditransformasi, dan roh yang membara, pengajaran tentang kehidupan Tubuh hanya menjadi teori tanpa praktik.
Praktik harian kehidupan Tubuh selanjutnya dipaparkan dalam Roma pasal 14 dan 15 melalui pelajaran penerimaan terhadap seluruh kaum beriman. Perpecahan di antara kaum beriman umumnya bersumber dari perbedaan pendapat mengenai doktrin sekunder atau praktik lahiriah, seperti makanan, pemeliharaan hari, serta tata cara baptisan. Dalam hidup gereja, kita dipanggil untuk memiliki sikap yang umum dengan menerima setiap orang beriman sejati tanpa menghakimi opini mereka, sama seperti Kristus telah menerima kita. Kehidupan Tubuh tidak memaksakan keseragaman atau pembetulan luar kepada orang lain, melainkan memelihara kesatuan di dalam keberagaman. Kita tidak boleh memaksakan pandangan pribadi, melainkan berfokus meministrikan hayat kepada sesama. Sebab, Kerajaan Allah bukanlah perkara makanan atau tata cara luar, melainkan perkara Roh Kudus yang membawa kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita.
Aspek krusial lainnya dari pelaksanaan kehidupan Tubuh yang ditegaskan dalam Roma pasal 16 adalah berdiri di dalam batas‑batas gereja lokal. Kehidupan Tubuh Kristus bukanlah teori universal yang abstrak, melainkan terekspresi secara nyata di dalam lokalitas gereja setempat. Hal ini dibuktikan melalui contoh Febe yang melayani gereja di Kengkrea, gereja yang bersidang di rumah Priska dan Akwila di Roma, serta Gayus yang memberi tumpangan bagi seluruh gereja setempat. Di mana pun kita berada, kita harus berada di dalam gereja lokal di tempat itu dan menghormati batas lokalitas tersebut. Kita perlu belajar berjalan bersama dengan gereja lokal tanpa mencoba mengoreksi atau menerapkan pandangan pribadi. Dengan menerima semua orang beriman dan menghormati gereja lokal, kita mewujudkan praktik kehidupan Tubuh yang sejati demi kegenapan maksud Allah.