Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan‑Nya (Yohanes 1꞉18)
PENYATAAN
Pemikiran inti dari Kitab Roma bukanlah sekadar masalah penghukuman, pembenaran, pengudusan, atau bahkan pemuliaan objektif, melainkan mengenai keputraan, transformasi, penyerupaan, dan kehidupan Tubuh Kristus. Maksud hati Allah yang terdalam adalah untuk membawa banyak putra ke dalam kemuliaan demi mendapatkan satu ekspresi korporat yang mengekspresikan diri‑Nya di bumi. Allah tidak menghendaki hanya satu ekspresi yang individual di dalam Putra tunggal‑Nya saja, melainkan mendambakan ekspresi Tubuh di dalam banyak putra yang telah dimuliakan. Di dalam rencana agung ini, Kristus Yesus hadir sebagai model dan pola sempurna bagi reproduksi massal putra‑putra Allah. Sebagai model, Kristus memiliki dua sifat dasar꞉ sifat menurut daging melalui keinsanian yang dikenakan‑Nya saat inkarnasi, dan sifat menurut Roh kekudusan yang merujuk pada esensi hakiki Allah. Melalui kematian dan kebangkitan‑Nya, Kristus "berbunga" secara luar biasa dari kondisi‑Nya di bumi dan dinyatakan sebagai Putra Allah yang berkuasa. Kebangkitan tersebut mempertinggi keinsanian‑Nya dan menyatakan daging‑Nya juga sebagai Putra Allah, sehingga menjadi teladan bagi kita yang dipanggil untuk memiliki sifat ilahi sekaligus sifat insani yang dipertinggi di dalam kebangkitan.
Penyataan diri kita sebagai putra‑putra Allah yang sejati tidak terjadi secara instan atau melalui pemberian tanda lahiriah, melainkan melalui proses kebangkitan yang menghasilkan perubahan hayat secara subjektif. Pengalaman rohani ini diilustrasikan secara indah melalui benih anyelir yang ditanam di dalam tanah. Benih tersebut tidak dapat langsung dikenali hanya dengan pengenalan luaran, melainkan harus melewati proses kematian dan kebangkitan di dalam tanah agar dapat bertumbuh, bertunas, dan akhirnya berbunga seutuhnya. Hayat Putra Allah yang telah ditanamkan ke dalam roh kita saat kelahiran kembali bekerja dengan prinsip yang sama; meskipun saat ini penampilan kita belum sempurna dan masih sering mengalami kegagalan, kita sedang berada di bawah proses penyataan oleh kebangkitan. Di bawah pengaturan kedaulatan Tuhan, bahkan kegagalan‑kegagalan hidup kita dipakai secara positif untuk meruntuhkan ego kita yang buruk. Proses peremukan ego ini memberikan kesempatan yang jauh lebih besar bagi Tuhan untuk bekerja di dalam batin kita, meremukkan manusia lahiriah kita, dan mengembangkan hayat batiniah agar dapat mekar sepenuhnya.
Proses kebangkitan yang transformatif ini berlangsung melalui empat tahap yang progresif꞉ pengudusan, pengubahan atau transformasi, penyerupaan, dan pemuliaan. Pengudusan yang diwahyukan di dalam Kitab Roma bukanlah kesempurnaan tanpa dosa secara lahiriah atau sekadar perubahan posisi, melainkan pengudusan watak yang diilustrasikan seperti proses menyeduh teh. Kristus sebagai "teh surgawi" meresap ke dalam kita sebagai "air", sehingga secara bertahap terjadi perubahan sifat dan esensi di dalam watak kita. Setelah mengalami pengudusan secara esensi, kita ditransformasi secara bentuk melalui penambahan hakiki ilahi ke dalam jiwa kita. Pengubahan bentuk ini menuntun kita pada penyerupaan dengan gambar Kristus, Putra sulung Allah, agar Dia menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Akhirnya, proses ini dirampungkan dalam pemuliaan, di mana hayat ilahi dari dalam roh menyebar sepenuhnya hingga mentransfigurasi tubuh fisik kita yang fana menjadi tubuh yang mulia. Melalui keputraan yang sempurna ini, kita akan dinyatakan secara riil sebagai putra‑putra Allah yang memiliki sifat dan penampilan ilahi dalam roh, jiwa, dan tubuh kita sepanjang masa kekekalan.
KEPUTRAAN DALAM KITAB ROMA
Sasaran akhir dari Injil Allah yang diwahyukan dalam Kitab Roma bukan sekadar mencakup aspek‑aspek penyelamatan objektif seperti penebusan, pengampunan, pembenaran, pendamaian, pembasuhan, dan kelahiran kembali, melainkan bagi penggenapan kedambaan hati Allah untuk memiliki banyak putra sebagai ekspresi‑Nya. Maksud kekal Allah adalah mengekspresikan diri‑Nya secara korporat melalui satu Tubuh yang tersusun dari putra‑putra yang telah dimuliakan di bumi. Melalui kematian dan kebangkitan Kristus, jutaan orang berdosa telah diubah menjadi putra‑putra Allah, di mana Kristus yang semula adalah Putra tunggal kini telah bangkit menjadi yang sulung di antara banyak saudara bagi tujuan reproduksi massal ini. Sebagai pola dan model sempurna bagi reproduksi massal ini, Kristus Yesus datang dalam rupa daging dosa saat inkarnasi—memiliki rupa daging tetapi tanpa sifat racun dosa di dalamnya, layaknya ular tembaga di padang gurun yang ditinggikan. Namun, melalui kebangkitan, bagian keinsanian‑Nya ditransfigurasi dan dinyatakan secara berkuasa sebagai Putra Allah menurut Roh kekudusan yang ada di dalam batin‑Nya. Proses penyataan ini diilustrasikan secara indah seperti benih anyelir yang dikubur di dalam tanah; benih tersebut tidak dinyatakan lewat pemberian label luar, melainkan dengan dikuburkan, bertumbuh, bertunas, dan berbunga sesuai dengan hayat batiniah yang ada di dalam dirinya.
Bagi kita sebagai orang berdosa yang semula hanyalah daging yang lemah, menyulitkan, dan sama sekali tidak memiliki harapan, jalan untuk dinyatakan sebagai putra-putra Allah terjadi menurut Roh kekudusan melalui proses okulasi organik ke dalam Kristus. Kita diibaratkan seperti ranting buruk yang disambungkan ke dalam pohon yang lebih baik sehingga kita mengalami proses kematian dan kebangkitan Kristus yang mematikan segala hal negatif dan membebaskan hal‑hal yang positif secara organik. Dalam ekonomi ilahi‑Nya, Allah sama sekali tidak bekerja dengan cara memberikan pengoreksian, pembetulan, atau perbaikan perilaku lahiriah manusia, melainkan bekerja mutlak melalui prinsip kebangkitan. Sebagai contoh praktis, cara agama menangani orang sombong adalah dengan mengajarinya untuk rendah hati secara moral, namun cara Allah adalah mengokulasikan orang sombong itu ke dalam Kristus agar kematian Kristus mengakhiri manusia lamanya dan membiarkan hayat kebangkitan Kristus menelan kesombongannya. Oleh karena itu, di dalam kehidupan gereja, kita tidak membutuhkan koreksi luar yang mekanis atau tumpukan doktrin yang kering, melainkan saling menyiram dan merawat satu sama lain dengan firman dan hayat agar pertumbuhan rohani dapat berlangsung secara alami dari dalam keluar.
Pertumbuhan rohani ini berjalan melalui proses pengudusan dan transformasi batiniah yang merombak watak atau sifat dasar kita secara metabolis. Pengudusan ini digambarkan secara indah melalui proses menyeduh teh, di mana Kristus adalah teh surgawi dan kita adalah airnya; semakin banyak teh yang ditambahkan, maka esensi air tersebut akan "ditehkan" atau diubah secara total baik sifat maupun warnanya. Pengudusan metabolis ini bukan sekadar perubahan posisi luar atau keadaan tanpa dosa, melainkan perubahan sifat batiniah yang menuntun pada transformasi jiwa dan penyerupaan dengan gambar Kristus, Sang Putra Sulung. Saat ini, keputraan ilahi ini telah berada di dalam roh kita yang melahirkan kembali, namun proses penjenuhan hayat ini harus terus menyebar ke dalam jiwa kita hingga puncaknya pada saat tubuh fisik kita mengalami transfigurasi dan penebusan di waktu kedatangan Tuhan kembali. Hanya setelah kita mengalami transformasi dan diserupakan dengan gambar Kristus, barulah kita dapat memiliki realitas Tubuh Kristus yang fungsional. Sebab, Tubuh Kristus yang kudus ini hanya dapat dibangun secara organik dengan putra‑putra Allah yang hidup di dalam roh, dan bukan dengan orang-orang berdosa yang masih hidup di bawah kendali daging.