Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikhususkan untuk memberitakan Injil Allah. (Roma 1꞉1)
DINYATAKAN MELALUI KEBANGKITAN
Injil Allah di dalam Kitab Roma pada hakikatnya adalah Injil keputraan yang bertujuan untuk mentransformasi orang‑orang berdosa menjadi putra‑putra Allah demi pembangunan Tubuh Kristus. Proses penyataan kita sebagai putra‑putra Allah ini tidak berlangsung secara objektif di masa depan, melainkan merupakan pengalaman subjektif harian terhadap Kristus sebagai kebangkitan dan kuat kuasa hayat. Melalui kebangkitan‑Nya, kita mengalami rangkaian proses batiniah yang saling berkaitan, yaitu pengudusan watak, transformasi, penyerupaan dengan gambar-Nya, dan akhirnya pemuliaan. Ketika kita memilih untuk hidup menurut Roh dan bukan menurut daging yang merepotkan, proses kebangkitan ini secara aktif menyatakan identitas kita sebagai anak‑anak Allah.
Kuat kuasa hayat kebangkitan ini memiliki fungsi ganda yang bekerja secara dinamis di aspek negatif dan positif dalam kehidupan harian kita. Secara negatif, kebangkitan memiliki kuasa mutlak untuk menaklukkan dan menelan maut beserta seluruh manifestasinya seperti kelemahan, kesombongan, kebencian, kritik, dan gosip. Secara positif, kebangkitan membebaskan segala hal positif dan kekayaan Kristus yang telah ditaburkan di dalam kita sebagai benih hayat. Sama seperti benih bunga anyelir yang bertumbuh secara perlahan, hayat kebangkitan ini menghasilkan pertumbuhan, transformasi, dan pembentukan batiniah yang menuntun kita untuk diserupakan secara penuh dengan gambar Putra Allah.
Realitas sejati dari kebangkitan yang subjektif ini adalah Roh Kudus yang berhuni di dalam roh kita. Kita tidak dapat mengalami kebangkitan tanpa menikmati Roh yang berhuni dan menyatakan ini secara harian. Alih‑alih berusaha memperbaiki diri sendiri secara lahiriah, kita dipanggil untuk melatih roh kita dengan cara menyeru nama Tuhan. Praktik sederhana ini mengontak Tuhan secara langsung sehingga kita disiram, disegarkan, dikuduskan, dan dibawa masuk ke dalam hadirat‑Nya. Melalui pertumbuhan dan transformasi yang konstan ini, kita sedang dipersiapkan hingga waktu pemuliaan tiba, di mana kita akan mekar sepenuhnya dan dimanifestasikan sebagai putra‑putra Allah yang mulia bagi kepuasan hati‑Nya.
DINYATAKAN MELALUI ROH KEKUDUSAN
Dinyatakan sebagai putra‑putra Allah terlaksana melalui tujuh kata rohani yang saling berkaitan erat꞉ penyataan, kebangkitan, pengudusan, transformasi, penyerupaan, pemuliaan, dan manifestasi seutuhnya. Semua hal yang ajaib ini direalisasikan melalui Roh kekudusan, yang merujuk kepada esens atau substansi hakiki diri Allah, dan bukan sekadar mengenai kesempurnaan tanpa dosa secara lahiriah. Melalui esens hayat ilahi inilah Kristus dinyatakan sebagai Putra Allah yang berkuasa melalui kebangkitan‑Nya. Injil di dalam Kitab Roma adalah Injil keputraan, di mana orang berdosa di dalam daging ditransformasikan menjadi putra‑putra Allah di dalam Roh. Karena itu, setiap pelayanan di gereja lokal harus berfokus pada sasaran mulia ini demi pembangunan Tubuh Kristus secara korporat.
Dalam ekonomi‑Nya, Allah menyalurkan diri‑Nya ke dalam batin manusia bagaikan arus listrik surgawi, di mana Allah Bapa terwujud di dalam Putra, dan Putra direalisasikan di dalam Roh. Kristus hari ini adalah Roh pemberi‑hayat yang telah menyatu secara organik dengan roh insani kita. Tuhan telah menempatkan sebuah "tombol" praktis di dalam batin kita, yaitu roh kita sendiri, untuk menerapkan aliran listrik ilahi tersebut ke dalam seluruh aspek kehidupan. Cara yang sangat sederhana namun berkuasa untuk mengaktifkan tombol ini adalah dengan berseru kepada nama Tuhan Yesus. Latihan roh ini membebaskan kita dari kesia‑siaan pikiran alamiah dan menghubungkan kita dengan arus Allah Tritunggal secara seketika.
Pengalaman subjektif menjamah Roh itu mencakup sepuluh aspek nyata dalam Kitab Roma꞉ kekudusan, hayat, hukum, damai sejahtera, sukacita, pengharapan, kasih, kekuatan, pelayanan, dan pemberitaan Injil. Kita dibebaskan dari hukum dosa dan maut melalui pengaktifan hukum Roh hayat yang bekerja sebagai kekuatan otomatis yang spontan di batin kita. Kita tidak perlu lagi bergumul payah memperbaiki perilaku luar kita dengan kehendak sendiri, melainkan cukup memberikan tempat bagi fungsi otomatis hukum hayat ini. Menaruh pikiran di atas roh menghasilkan hayat dan damai sejahtera yang menepiskan rasa hampa serta menyuplai kekuatan rohani yang memuaskan. Pengalaman harian ini membawa kita masuk ke dalam realitas kebangkitan menuju pemuliaan akhir yang mulia.
DINYATAKAN MELALUI ROH PERBAURAN
Injil Allah pada hakikatnya adalah Injil keputraan yang bertujuan untuk menghasilkan banyak putra bagi Allah melalui aliran arus Allah Tritunggal. Di dalam ekonomi‑Nya, Bapa adalah sumber, Putra adalah saluran, dan Roh itu adalah arus bergerak yang menerapkan semua kekayaan Allah ke dalam diri kita. Aliran Roh ini digambarkan sebagai minyak urapan almuhit yang mengandung unsur keilahian, keinsanian, khasiat kematian, serta kuat kuasa kebangkitan Kristus. Roh pemberi‑hayat ini telah berbaur dengan roh insani kita yang dilahirkan kembali. Pengalaman rohani yang sejati bukanlah masalah doktrin atau pengetahuan Alkitab yang mati, melainkan perkara hayat dan kontak langsung dengan Roh yang hidup ini.
Untuk menerapkan "listrik surgawi" dari Allah Tritunggal ini, Allah telah menyediakan roh kita sebagai sebuah "tombol" praktis di dalam batin kita. Cara paling sederhana untuk menyalakan aliran arus ilahi ini adalah dengan melatih roh kita melalui berseru kepada nama Tuhan Yesus. Di dalam roh perbauran ini, Roh Kudus bersaksi bersama roh kita bahwa kita adalah anak‑anak Allah. Roh yang menghuni ini membawa kekayaan luar biasa bagi pengalaman harian kita, termasuk kemerdekaan dari perbudakan kebinasaan, pencicipan yang manis, keputraan yang almuhit, pimpinan spontan, kesaksian batiniah yang melindungi, serta doa syafaat Roh dengan keluhan batin demi menyerupakan kita dengan gambar Kristus. Melalui doa syafaat ini, Allah memakai segala situasi sulit untuk mendatangkan kebaikan rohani bagi kita.
Kunci untuk dinyatakan secara nyata sebagai putra‑putra Allah adalah dengan senantiasa hidup dan melayani di dalam roh kita, bukan di dalam pikiran. Berjalan menurut roh perbauran ini berarti mempraktikkan pengudusan batiniah, pembaruan, dan kebangkitan subjektif dalam setiap pembicaraan, pemikiran, dan aktivitas harian kita. Di dalam roh perbauran ini, kita dibebaskan dari sekadar memutuskan sesuatu menurut benar atau salah secara lahiriah, melainkan memutuskannya secara mutlak menurut roh. Lebih jauh lagi, hidup menurut roh perbauran adalah fondasi mutlak bagi pembangunan gereja yang sejati. Tanpa praktik hidup menurut roh, segala aktivitas pemberitaan, pengajaran, atau pelayanan rohani luar tidak akan mampu menghasilkan pembangunan Tubuh Kristus yang riil.