Artikel

Kehidupan Manusia‑Allah bagi Suatu Kebangunan yang Baru

13 Sep 2026
3 menit baca

Pembacaan Alkitab꞉ Im. 1꞉3, 9; 6꞉8-13; Yoh. 21꞉15-17; 1 Yoh. 3꞉14; 5꞉1; 2꞉6; 4꞉17; Gal. 6꞉2-3; Rm. 8꞉2
 

Hasrat hati Allah adalah agar “realitas (kebenaran, LAI) yang nyata dalam Yesus” (Ef. 4꞉21), kondisi nyata dari kehidupan Manusia-Allah Yesus seperti yang tercatat dalam keempat Injil, akan diduplikasi dalam banyak anggota Tubuh Kristus oleh Roh realitas untuk menjadi realitas Tubuh Kristus, puncak tertinggi dalam ekonomi Allah, bagi suatu kebangunan yang baru. Keempat Injil memperlihatkan pola kehidupan yang Allah dambakan, cetakan kehidupan yang dapat memuaskan Allah dan menggenapkan tujuan-Nya; Yesus menempuh kehidupan di mana Dia melakukan segalanya di dalam Allah, bersama Allah, dan bagi Allah; Allah ada dalam kehidupan‑Nya, dan Dia esa dengan Allah; inilah yang dimaksud dengan realitas yang nyata dalam Yesus; mempelajari Kristus sebagai realitas yang nyata dalam Yesus adalah dicetak ke dalam pola Kristus, diserupakan kepada gambar Kristus (Rm. 8꞉28‑29).

Dalam kehidupan‑Nya di bumi, Dia mendirikan satu teladan, seperti yang diwahyukan dalam keempat Injil, kemudian Dia disalibkan dan dibangkitkan untuk menjadi Roh pemberi‑hayat sehingga Dia bisa masuk ke dalam kita untuk menjadi hayat kita; kita belajar dari Dia menurut contoh‑Nya, bukan oleh hayat alamiah kita tetapi oleh Dia sebagai hayat kita dalam kebangkitan (1 Kor. 15꞉45b). Kehidupan kristiani kita adalah kehidupan di dalam Kristus dan juga kehidupan Kristus di dalam kita; kita ada di dalam Kristus sebagai cetakan, dan Dia ada di dalam kita sebagai hayat kita; dengan cara ini kita mempelajari Kristus sebagai realitas yang nyata dalam Yesus; realitas ini adalah realitas Tubuh Kristus. Sewaktu kita mengasihi Tuhan, mengontak Dia, dan berdoa kepada‑Nya, secara otomatis kita memperhidupkan Dia menurut cetakan, bentuk, pola, yang digambarkan dalam Injil; dengan cara ini kita dibentuk, diserupakan, kepada gambar cetakan ini—inilah maknanya mempelajari Kristus (Mat. 11꞉29; Rm. 8꞉29).

Satu‑satunya kehidupan yang menyenangkan Allah adalah kehidupan yang adalah pengulangan dari kehidupan yang Kristus tempuh di bumi; ini adalah kehidupan yang mengalami Kristus dalam pengalaman-pengalaman‑Nya sebagai kurban bakaran (Im. 1꞉9; Yoh. 8꞉29; 2 Kor. 5꞉9). Kurban bakaran melambangkan Kristus dalam Dia menempuh kehidupan yang mutlak bagi Allah dan bagi kepuasan Allah; kurban bakaran juga melambangkan Kristus dalam Dia sebagai hayat yang memungkinkan umat Allah memiliki kehidupan sedemikian. Kurban bakaran “baunya menyenangkan bagi TUHAN” (Im. 1꞉9); kata Ibrani yang diterjemahkan “baunya menyenangkan” secara harfiah berarti “kenikmatan perhentian atau kepuasan”; bau yang menyenangkan adalah satu kenikmatan yang membawa kepuasan, damai sejahtera, dan perhentian; bau yang demikian menyenangkan adalah satu kenikmatan bagi Allah. Kehidupan Kristus di dalam kita adalah realitas dari kurban bakaran—ini adalah kehidupan ketaatan, kehidupan ketundukan, dan kehidupan bergantung total kepada Allah menurut prinsip pohon hayat (Flp. 2꞉8; Yoh. 5꞉19). Dengan meletakkan tangan kita atas Kristus sebagai kurban bakaran kita melalui doa yang tepat, kita disatukan kepada‑Nya, dan Dia dan kita menjadi esa; karena Kristus hidup di dalam kita, Dia di dalam kita mengulangi kehidupan yang Dia tempuh di bumi, kehidupan kurban bakaran.

Kita harus mengizinkan Tuhan untuk membakar kita sehingga kita bisa menjadi kurban bakaran yang terus‑menerus untuk membakar orang lain dan dibakar sampai menjadi abu untuk menjadi Yerusalem Baru bagi ekspresi Allah. Abu menandakan Kristus dibakar sampai habis; karena kita esa dengan Kristus yang telah dibakar sampai menjadi abu, kita juga dibakar sampai menjadi abu, yaitu, dibakar sampai habis, sampai tidak ada apa-apa lagi (Mrk. 9꞉12). Semakin kita diidentikkan dengan Kristus dalam kematian‑Nya, kita akan semakin menyadari bahwa kita telah menjadi tumpukan abu; ketika kita menjadi abu, kita bukan lagi seorang yang alamiah; sebaliknya, kita adalah seorang yang telah disalibkan, diakhiri, dibakar (Gal. 2꞉19b‑20a). Ketika kita dibakar menjadi abu, kita dibawa ke dalam transformasi Allah Tritunggal untuk menjadi bahan berharga bagi pembangunan Yerusalem Baru (Rm. 12꞉1‑2).