Pembacaan Alkitab꞉ Rm. 1꞉17; 6꞉19, 22; 8꞉2, 6, 10-11, 18, 21; 9꞉23; 11꞉36; 12꞉1-5; 16꞉27
Ekonomi kekal Allah adalah untuk menyalurkan diri‑Nya sebagai hukum Roh hayat ke dalam manusia sehingga atribut-atribut keadilbenaran, kekudusan, dan kemuliaan ilahi‑Nya akan menjadi kebajikan-kebajikan insani manusia bagi ekspresi korporat Allah sebagai realitas Tubuh Kristus dalam gereja‑gereja lokal untuk merampungkan Yerusalem Baru sebagai kota keadilbenaran, kekudusan, dan kemuliaan (Kej. 2꞉9; Yoh. 10꞉10b; 14꞉6a; 1 Kor. 15꞉45b; Rm. 8꞉2; 2 Ptr. 3꞉13; Why. 21꞉2, 9‑11). Hasrat Allah adalah menggarapkan diri‑Nya ke dalam kita sampai taraf Dia menjadi kita dan kita menjadi Dia, agar kita dan Dia menjadi sepenuhnya identik dalam hayat, sifat, dan gambar; ini adalah puncak dari ekonomi‑Nya (Yoh. 1꞉12‑13; 2 Ptr. 1꞉4; 2 Kor. 3꞉18). Manusia diciptakan dalam gambar Allah sebagai bejana yang hidup untuk menerima dan menampung Allah sebagai hayat bagi reproduksi, duplikat, Allah dalam hayat (Kej. 1꞉26; 2꞉7; Rm. 9꞉21, 23; 2 Kor. 4꞉7; Yoh. 12꞉24).
Kristus mati di atas salib untuk memuaskan tuntutan keadilbenaran, kekudusan, dan kemuliaan Allah dan dibangkitkan untuk menjadi Roh penyalur-hayat sebagai realitas dari pohon hayat untuk menjadi keadilbenaran, kekudusan, dan kemuliaan kita (Kej. 3꞉24; 1 Kor. 15꞉45b; 1꞉30; lih. Ef. 5꞉25‑27). Hayat Allah Tritunggal disalurkan ke dalam diri tiga bagian kita menjadikan kita manusia hayat untuk menjadi putra‑putra Allah dan anggota‑anggota Kristus untuk menyusun Tubuh Kristus bagi ekspresi‑Nya, karenanya menggenapi tujuan sebermula Allah (Kej. 2꞉7, 9; Rm. 8꞉14; 12꞉5).
Tiga warna utama pelangi yang mengelilingi takhta Allah adalah biru (warna takhta lazurit, yang menandakan keadilbenaran Allah (Yeh. 1꞉26; Mzm. 89꞉15), merah (warna api yang menguduskan, yang menandakan kekudusan Allah (Yeh. 1꞉4, 13, 27; Ibr. 12꞉29), dan kuning (warna elektrum yang mengkilat, yang menandakan kemuliaan Allah (Yeh. 1꞉4, 27; Ibr. 1꞉3). Pelangi yang mengelilingi takhta Allah menandakan bahwa Allah adalah Allah yang membuat perjanjian, Allah yang setia, yang akan menjaga perjanjian-Nya yang baru untuk membagikan kebaruan hayat ke dalam umat pilihan‑Nya untuk menjadikan mereka Yerusalem Baru ketika melaksanakan penghakiman‑Nya atas bumi (Kej. 9꞉8‑17; Why. 4꞉3; 21꞉2; Rm. 6꞉4; Yeh. 1꞉2628; 36꞉26‑27).
Kristus sendiri, yang ditandai oleh pelangi keadilbenaran, kekudusan, dan kemuliaan, adalah perjanjian yang Allah berikan kepada umat‑Nya bagi “peng‑Kristus‑an” mereka, yang adalah untuk menjadikan mereka sama persis dengan Dia dalam hayat, sifat, dan ekspresi tetapi bukan dalam ke-Allahan (Yes. 42꞉6; Ibr. 8꞉10‑12).
Transmisi Kristus, sebagai berbagai ragam hikmat Allah, ke dalam diri kita menjadikan kita karya agung Allah Tritunggal sebagai pameran yang bijak dari segala adanya Dia, satu puisi yang mengekspresikan hikmat‑Nya yang tak terbatas dan rancangan ilahi‑Nya (1 Kor. 1꞉30; Ef. 2꞉10; 3꞉9‑11). Dalam kekekalan sebagai Yerusalem Baru (satu kota yang fondasinya memiliki penampilan pelangi (Why. 21꞉19‑20), kita akan menjadi pelangi untuk mempersaksikan kesetiaan Allah untuk melaksanakan perjanjian‑Nya yang baru dalam menjadikan kita sama persis dengan Dia sebagai keadilbenaran, kekudusan, dan kemuliaan (Why. 21꞉10‑11).
Kitab Roma mewahyukan bahwa dalam setiap gereja harus ada dasar keadilbenaran Allah (prosedur Allah), proses kekudusan Allah (sifat Allah), dan sasaran kemuliaan Allah (ekspresi Allah) untuk membawa kita ke dalam hati Allah untuk memiliki realitas Tubuh Kristus melalui gereja‑gereja lokal (Rm. 1꞉17; 8꞉10; 6꞉19, 22; 8꞉18, 21; 9꞉23; 11꞉36—12꞉5; 16꞉27). Kitab Roma juga mewahyukan tabernakel Allah sebagai kehidupan Tubuh yang direalisasikan dalam kehidupan gereja (pasal 12—16) dengan struktur dasar keadilbenaran (3꞉21—5꞉11), kekudusan (ayat 12—8꞉13), dan kemuliaan (ayat 14‑39).