Artikel

Bertekun dalam Doa dan Pelayanan Firman

05 Jul 2026
3 menit baca

Pembacaan Alkitab꞉ Kis. 6꞉4; Yud. 20; Mrk. 11꞉20-24; Ef. 3꞉17-19
 

Berdoa berarti kita menyadari bahwa kita bukanlah apa‑apa dan bahwa kita tidak bisa melakukan apa‑apa; ini menyiratkan bahwa doa adalah penyangkalan diri yang sebenarnya (Mrk. 8꞉34; 9꞉29). Seorang manusia pendoa haruslah orang yang mencari Allah dan kehendak Allah (Mat. 26꞉39; Yoh. 4꞉34; 5꞉30; 6꞉38). 

Makna sebenarnya dari doa adalah mengontak Allah di dalam roh kita dan menyerap diri Allah sendiri (Yud. 20; Yoh. 14꞉13; 15꞉7). Doa adalah berkontaknya roh insani dengan Roh ilahi, di mana kita menghirup Allah (Yud. 20; Yoh. 4꞉24). Doa‑doa yang sejati adalah doa‑doa yang dibaurkan dengan Allah Roh di dalam roh kita (Yud. 20; Ef. 6꞉18; Rm. 8꞉16; 1 Kor. 6꞉17). Doa seharusnya merupakan doa bersama di mana Allah dibaurkan dengan roh kita. Doa‑doa yang sejati (doa‑doa yang melibatkan Allah dan manusia) adalah hasil dari Roh Allah dibaurkan dengan roh manusia dan roh manusia dibaurkan dengan Roh Allah (Yud. 20; Rm. 8꞉4, 26). Dalam doa ini, Allah dan manusia dibaurkan bersama, dan Allah adalah Pemrakarsa dan Motivator. Allah berdoa di dalam manusia, dan manusia berdoa di dalam Allah (Yak. 5꞉17). Jika kita ingin memiliki doadoa yang sejati, doa‑doa yang diprakarsai oleh Allah dan yang menjamah Allah, kita harus berdoa di dalam Roh Kudus. Berdoa di dalam Roh Kudus berarti kita dan Roh Kudus berdoa bersama dalam persekutuan dua roh (Yud. 20; 2 Kor. 13꞉13; Flp. 2꞉1). Doa‑doa di mana kita mengontak Allah, menghirup Allah, menyerap Allah, dan dipenuhi dengan Allah adalah doa-doa yang sejati; hanya doa‑doa seperti ini yang harus dipersembahkan kepada Allah (Why. 5꞉8; 8꞉3‑4).

Alkitab mengandung doa yang paling tinggi dan rohani yaitu doa otoritas (Mat. 18꞉18‑19; Mrk. 11꞉23‑24; Ef. 1꞉20‑22; 2꞉6; 6꞉1213, 18‑19). Jika kita ingin menjadi manusia pendoa, kita harus belajar untuk berdoa dengan otoritas; ini adalah jenis doa yang digambarkan oleh Tuhan dalam Matius 18꞉18. Berdoa dengan otoritas adalah mendoakan doa dalam Markus 11꞉23‑24. Iman adalah percaya bahwa kita telah menerima apa yang telah kita minta (ayat 23‑24). Menurut firman Tuhan, kita harus percaya bahwa kita telah menerima, bukan bahwa kita akan menerima. Berharap berarti mendambakan sesuatu di masa depan; percaya berarti menganggap sesuatu telah terlaksana. Iman bukan hanya percaya bahwa Allah bisa atau akan melakukan hal tertentu tetapi juga percaya bahwa Allah telah melakukan hal tersebut. Doa dalam Markus 11꞉20‑24 adalah doa dengan otoritas. Doa dengan otoritas tidak meminta Allah untuk melakukan sesuatu; sebaliknya, doa ini melaksanakan otoritas Allah dan menerapkan otoritas ini untuk menanggulangi masalah-masalah dan hal‑hal yang perlu disingkirkan (Za. 4꞉7; Mat. 21꞉21). Allah telah memberi kita amanat untuk menginstruksikan apa yang telah Dia instruksikan dan memerintahkan apa yang telah Dia perintahkan (Mat. 17꞉20). Gereja bisa memiliki doa dengan otoritas sedemikian melalui memiliki iman yang penuh, tanpa keragu‑raguan, dan dengan jelas bahwa apa yang kita lakukan sepenuhnya menurut kehendak Allah (Mat. 6꞉10; 18꞉19‑20).

Doa harus mendahului ministri firman, sama seperti yang dilaksanakan para rasul—ayat 4. Contoh dari ministri firman adalah Efesus 3꞉17a꞉ “Sehingga oleh imanmu Kristus tinggal (membuat rumah‑Nya, lit.) di dalam hatimu.” Ketika Kristus menyebar ke dalam hati kita, Dia menjadi persona kita. Kita perlu mengambil Kristus bukan hanya sebagai hayat di dalam roh kita tetapi juga sebagai persona di dalam hati kita. Satu‑satunya jalan agar Kristus menjadi persona kita adalah dengan Dia membuat rumah‑Nya di dalam hati kita. Jika kita mengambil Kristus sebagai persona kita di dalam hati kita, persona yang hidup di dalam hati kita bukanlah ego melainkan Kristus (Gal. 2꞉20).