Dalam Wahyu 3꞉11 dan 22꞉17, Tuhan mengulangi peringatan‑Nya “Aku datang segera” agar kita mempertimbangkan pahala-Nya yang akan diberikan pada saat kedatangan-Nya kembali. Pada saat kedatangan Tuhan, pahala ini akan diberikan kepada setiap orang beriman, setelah keterangkatan mereka, di depan takhta penghakiman Kristus (2 Kor. 5꞉10; 1 Kor. 4꞉5; Rm. 14꞉10; Mat. 16꞉27). Kata Yunani yang diterjemahkan “upah” dalam Wahyu 22꞉12 berarti “pahala.” Ketika Tuhan Yesus datang kembali untuk memiliki kerajaan, Dia akan memberi pahala atau menghukum semua orang milik Dia.
Keselamatan kekal tidak ada hubungannya dengan pekerjaan kita, tetapi pahala kerajaan akan sepenuhnya menurut pekerjaan kita yang telah kita lakukan oleh hayat Tuhan setelah diselamatkan. Orang-orang yang melakukan yang baik akan menerima pahala, dan orang yang melaksanakan yang jahat akan menerima hukuman (2 Kor. 5꞉10). Kita akan berdiri di hadapan takhta penghakiman dan memberi Tuhan laporan mengenai seluruh kehidupan, perjalanan, dan sikap kita pada masa lalu; karena inilah bahkan Rasul Paulus berkata bahwa ia tidak berani menghakimi diri sendiri, tetapi Yang menghakiminya adalah Tuhan (1 Kor. 4꞉3‑4). Cara kita melayani dan bekerja bagi Tuhan setelah kita diselamatkan adalah perkara yang besar. Paulus berkata, “Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat pahala (upah, LAI)” (1 Kor. 3꞉14). Ketika Tuhan datang kembali, akan ada penghakiman; pada penghakiman itu, Dia akan menentukan apakah kita akan menerima pahala atau penghukuman. Pahala itu akan diputuskan oleh takhta penghakiman Kristus꞉ “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat” (2 Kor. 5꞉10).
Petrus mengumpamakan perkataan nubuat dalam Kitab Suci dengan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap (2 Ptr. 1꞉19). Ini menunjukkan bahwa zaman ini adalah tempat yang gelap di malam yang gelap (Rm. 13꞉12), dan semua orang dunia ini bergerak dan bertindak dalam kegelapan. Perkataan nubuat dari Kitab Suci, sebagai pelita yang bersinar bagi kaum beriman, menyampaikan terang rohani yang bersinar dalam kegelapan mereka (bukan sekadar pengetahuan harfiah bagi pemahaman mental mereka), membimbing mereka untuk memasuki hari yang terang, bahkan melewati malam yang gelap sampai fajar penampakan Tuhan menyingsing. Sebelum Tuhan sebagai terang matahari muncul, kita memerlukan firman ini sebagai terang untuk menyinari langkah kaki kita.
Fajar menyingsing (2 Ptr. 1꞉19) adalah suatu kiasan yang menggambarkan waktu yang akan datang yang penuh dengan terang, seperti hari fajar menyingsing, dengan bintang timur terbit, sebelum fajar menyingsing, di dalam hati kaum beriman, yang disoroti dan diterangi melalui memperhatikan perkataan nubuat yang memancarkan terang dalam Kitab Suci. Pada zaman kemurtadan, adalah baik bagi kaum beriman memperhatikan perkara ini, sehingga perkataan nubuat, sebagai pelita, bisa memancarkan terang melalui kegelapan kemurtadan sampai fajar menyingsing atas mereka. Ini akan menyebabkan dan mendorong mereka untuk mencari hadirat Tuhan dengan sungguh‑sungguh dan berjaga-jaga supaya mereka jangan sampai melewatkan Tuhan pada bagian tersembunyi dari kedatangan‑Nya (parousia), ketika Dia akan datang sebagai pencuri. Jika kita memperhatikan firman dalam Alkitab, yang bersinar sebagai pelita di tempat yang gelap, kita akan memiliki bersinarnya Dia dalam hati kita untuk menyinari kegelapan kemurtadan tempat kita berada hari ini, sebelum penampakan‑Nya secara nyata sebagai bintang fajar.