Pembacaan Alkitab: Why. 10:1-7; 11:15-18
Wahyu 11:15-18 dan 12:10 menunjukkan bahwa kita bisa mengalami dan menikmati Kristus sebagai Raja yang kekal. Sewaktu sangkakala ketujuh ditiup, tidak hanya kesusahan besar akan berakhir, tetapi juga zaman ini akan ditutup, misteri Allah akan berakhir (Why. 10:7), dan zaman yang lain, zaman kerajaan, zaman seribu tahun, akan dimulai. Kerajaan dunia menjadi kerajaan Kristus pada saat kedatangan-Nya kembali setelah Dia melaksanakan penghakiman-Nya atas bangsa-bangsa (Dan. 7:13-14; 2:44-45). Di sini Tuhan memerintah selama-lamanya adalah Tuhan memerintah dalam Kerajaan Seribu Tahun dan di langit baru dan bumi baru sampai kekekalan (Why. 22:5).
Dalam Ratapan 5:19 Nabi Yeremia berkata “Engkau, ya TUHAN, bertakhta selama-lamanya, takhta-Mu tetap dari masa ke masa.” Diri kekal Allah dan takhta-Nya lebih tinggi daripada kasih sayang, rahmat, dan kesetiaanNya (Rat. 3:22-23). Kasih sayang dan rahmat Allah bisa berfluktuasi, tetapi persona Allah dan pemerintahan-Nya tetap tidak berubah selama-lamanya. Dalam Yerusalem Baru, persona Allah akan sepenuhnya disingkapkan sebagai Raja yang kekal dan dalam pemerintahan-Nya sebagai kerajaan-Nya yang kekal dan tak terguncangkan (Ibr. 12:28; Why. 22:3), yang keduanya adalah fondasi yang tak terguncangkan dalam penanggulangan-Nya terhadap umat-Nya.
Dalam Wahyu 10:1-7 kita memiliki visi yang jelas akan Kristus datang untuk memiliki bumi. Dalam pasal ini, Kristus adalah “Malaikat lain yang kuat” (ayat 1), seperti Dia dalam pasal 7:2; 8:3; dan 18:1. Dalam ayat 1b, Kristus berselubungkan awan. Dia belum ada “di atas awan” seperti dalam pasal 14:14 dan Matius 24:30; 26:64. Berada “di atas awan” adalah datang secara terbuka, sedangkan “berselubungkan awan” adalah datang secara rahasia. Kristus akan datang secara rahasia, bukan secara terbuka, sampai Dia terlihat oleh seluruh suku di bumi, seperti yang disebutkan dalam Wahyu 1:7 dan dalam Matius 24:30. Bahkan pada waktu Wahyu 10, kedatangan Kristus masih rahasia. Dia akan ditutupi awan sampai pasal 14, ketika Dia duduk di atas awan dan kedatangan-Nya akan terbuka. Dengan ini kita bisa melihat bahwa ajaran umum bahwa Kristus akan datang sebelum kesusahan besar itu tidak akurat.
Wahyu 10:1c mengatakan, “Pelangi ada di atas kepalanya.” Di sini pelangi menunjukkan bahwa Kristus dalam penghakiman-Nya atas bumi dan dalam kedatangan-Nya untuk memilikinya akan memegang perjanjian yang Allah buat dengan Nuh mengenai bumi (Kej. 9:8-17). Ini menunjukkan juga bahwa Kristus adalah Dia yang akan melaksanakan penghakiman menurut Allah yang duduk di atas takhta dengan pelangi melingkunginya (Why. 4:2-3). Kitab Wahyu mewahyukan bahwa Allah akan menghakimi bumi dan semua penghuninya. Pelangi melingkungi takhta-Nya menandakan bahwa Allah adalah Allah yang berjanji, Allah yang setia, yang akan memegang perjanjian-Nya ketika melaksanakan penghakiman-Nya atas bumi. Dia tidak akan menghakimi umat manusia lagi dengan air bah ataupun menghancurkan seluruh umat manusia, tetapi akan memelihara sebagian umat manusia untuk menjadi bangsa-bangsa di bumi baru bagi kemuliaan-Nya (Why. 21:24, 26).
Selanjutnya dalam Wahyu 10:1d mengatakan “Mukanya sama seperti matahari, dan kakinya bagaikan tiang api.” Menjelang waktu kedatangan-Nya kepada umat di bumi secara terbuka, Kristus akan menjadi seperti matahari, bukan seperti bintang fajar, yang terlihat sebelum waktu yang paling gelap, sebelum fajar, bagi orang-orang yang mengasihi Dia dan menantikan Dia. Api dalam ayat 1 menandakan kekudusan Allah (Kel. 19:18; Ibr. 12:29), yang menurut itu Kristus akan melaksanakan penghakiman-Nya atas bumi.