Pembacaan Alkitab꞉ Kej. 2꞉7-9; Why. 2꞉4-5, 7; 22꞉2, 14; 2 Kor. 4꞉5; 5꞉14-15
Kristus sebagai hayat adalah realitas dari pohon hayat, yang adalah pusat alam semesta. Hayat adalah sasaran ciptaan Allah (Kej. 1꞉2628, 31; 2꞉7‑9) dan sasaran keselamatan lengkap Allah (Yoh. 19꞉34; Rm. 5꞉10; Why. 22꞉1‑2, 14, 19). Dalam Alkitab, pohon hayat selalu menandakan Kristus sebagai perwujudan semua kekayaan Allah bagi makanan kita. Allah menempatkan manusia di depan pohon hayat menunjukkan bahwa Allah ingin manusia menerima Dia sebagai hayat manusia melalui makan Dia secara organik dan melalui mengasimilasi Dia secara metabolik, agar Allah bisa menjadi unsur penyusun diri manusia (Kol. 2꞉9; Kej. 2꞉9; Yoh. 1꞉4; 10꞉10; 14꞉6; 15꞉1; 6꞉35, 57, 63; 1 Kor. 15꞉45b). Kita perlu melihat rintangan‑rintangan yang dihadapi hayat Allah dalam manusia. Masalah pertama yang dihadapi hayat Allah di dalam kita adalah kita tidak menyadari kegelapan dari konsepsi‑konsepsi insani kita.
Kita perlu melihat bahwa satu‑satunya hal yang terhitung dalam kehidupan orang Kristen adalah bagaimana kita memperhatikan Kristus yang hidup di dalam kita (Gal. 1꞉16; 2꞉20; 4꞉19; Flp. 1꞉19‑21; Ef. 4꞉13; 2 Kor. 3꞉18). Menjadi seorang Kristen berarti tidak mengambil apa pun selain Kristus sebagai sasaran kita. Banyak orang memiliki kesulitan dalam kehidupan rohani mereka setelah mereka diselamatkan karena mereka tidak mengenal jalan hayat, dan mereka tidak mengambil Kristus sebagai hayat mereka. Masalah kedua yang dihadapi hayat di dalam kita adalah kemunafikan (Mat. 6꞉2, 5; 7꞉5; 23꞉13‑29). Kerohanian seseorang tidak ditentukan oleh penampilan lahiriah tetapi oleh bagaimana ia memperhatikan Kristus yang berhuni. Kebaikan alamiah kita adalah kerohanian yang palsu dan sebenarnya adalah hambatan yang besar kepada hayat. Masalah ketiga yang dihadapi hayat di dalam kita adalah pemberontakan. Kristus beroperasi dan bergerak di dalam kita untuk membuat kita jelas mengenai kehendak dan tuntutan‑Nya bagi kita serta mengenai pimpinan dan penanggulangan‑Nya pada kita. Namun, jika kita tidak menaati perasaan di batin ini tetapi menentangnya, tidak menerima pimpinan‑Nya atau membayar harga, ketidakrelaan dan penentangan ini adalah pemberontakan. Masalah keempat adalah kemampuan alamiah kita. Banyak saudara dan saudari benar‑benar mengasihi Tuhan, bergairah bagi Tuhan, dan sangat beribadah; meskipun demikian, masalah terbesar mereka adalah kuat dan besarnya kemampuan serta kecakapan mereka; akibatnya, Kristus tidak memiliki tumpuan atau jalan di dalam mereka. jika ini tetap tidak diremukkan di dalam kita, ini akan menjadi masalah bagi hayat Kristus. Ada satu solusi bagi semua rintangan di dalam kita ini yaitu kita harus melewati salib dan membiarkan salib meremukkan kita; jika kita ingin hayat Kristus tanpa hambatan di dalam kita, kita harus mengalami peremukan salib dan membiarkan rintangan‑rintangan ini ditanggulangi dan disingkirkan (Mat. 16꞉2425).
Agar kita makan Kristus sebagai pohon hayat, kita harus memberi Dia tempat pertama dalam segala sesuatu, yang adalah mengasihi Dia dengan kasih pertama, ditarik oleh kasih-Nya untuk menganggap dan mengambil Dia sebagai segala sesuatu dalam kehidupan kita (Why. 2꞉4‑5; Kol. 1꞉18b; 2 Kor. 5꞉14‑15; Mrk. 12꞉30; Mzm. 73꞉25‑26; 80꞉18‑20). Makan Kristus sebagai pohon hayat, yaitu, menikmati Kristus sebagai suplai hayat kita, harus menjadi perkara utama dalam kehidupan gereja (Why. 2꞉7; Yoh. 6꞉57, 63). Isi dari kehidupan gereja bergantung pada kenikmatan atas Kristus; semakin kita menikmati Dia, isinya akan semakin kaya; tetapi untuk makan Kristus sebagai pohon hayat, untuk menikmati Dia sebagai suplai hayat kita, menuntut kita untuk mengasihi Dia dengan kasih pertama (Why. 2꞉45).