Ibrani 8꞉10b
“Aku akan menaruh hukum‑Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat‑Ku.”
Sebelumnya kita telah melihat bahwa Yeremia 31꞉33 berbicara tentang satu hukum, sedangkan Ibrani 8꞉10 dan 10꞉16 berbicara tentang banyak hukum. Mengapa satu hukum menjadi banyak hukum? Ketika kita dilahirkan kembali, Tuhan Yesus masuk ke dalam kita sebagai hukum hayat. Karena Tuhan maupun hukum hayat keduanya adalah hayat (Yoh. 11꞉25; Kol. 3꞉4), kita dapat mengatakan bahwa Tuhan itu sendiri adalah hukum hayat. Ketika Kristus masuk ke dalam kita, hukum hayat ditaruh ke dalam kita. Sekarang kita memiliki hukum hayat di dalam kita. Kini sebagai orang-orang yang telah dilahirkan kembali, kita membutuhkan hukum tersebut untuk dituliskan ke dalam bagian‑bagian batin kita melalui pengalaman‑pengalaman Kristen kita sehari‑hari, dari saat ke saat. Memang benar bahwa hukum hayat telah ditaruh ke dalam kita pada saat kita dilahirkan kembali, tetapi jika kita tidak memiliki pengalaman‑pengalaman yang tepat, hukum hayat tersebut tidak akan tertulis di dalam kita.
Ketika hukum itu ditaruh ke dalam kita pada saat kelahiran kembali kita, ia hanyalah satu hukum. Akan tetapi, ketika kita mengalami satu hukum ini dalam kehidupan Kristen kita, ia menjadi banyak hukum. Meskipun hanya ada satu hukum hayat, satu hukum ini memiliki banyak aspek. Setiap karakteristik dari sifat Allah adalah satu butir dari hukum ini. Hal ini juga berlaku pada hukum Taurat Perjanjian Lama. Ketika hukum Taurat diberikan, ia diberikan sebagai satu hukum. Namun, bani Israel mengalami satu hukum ini butir demi butir, yaitu sebagai hukum‑hukum. Hal yang sama juga berlaku bagi kita. Ketika kita mulai mengalami hukum ini setelah kelahiran kembali kita, kita mendapati bahwa hukum ini memiliki banyak butir, termasuk kekudusan, keadilbenaran, kasih, kesetiaan, dan kesabaran. Seiring dengan semakin banyaknya pengalaman kita, hukum yang telah ditaruh ke dalam kita pada saat kelahiran kembali itu secara bertahap dituliskan ke dalam kita butir demi butir. Kata menuliskan dalam Yeremia 31꞉33 menjadi mengukir (inscribing) dalam kitab Ibrani. Ini berarti bahwa saat kita mengalami hukum ilahi ini, semua butirnya dikerjakan ke dalam wujud kita secara intrinsik. Melalui proses pengukiran ini, sesuatu dari karakter Allah dibaurkan dan bahkan ditenun ke dalam karakter kita. Inilah artinya hukum hayat beserta banyak hukumnya dituliskan ke dalam kita.
Dalam Kitab Yeremia hukum hayat dinubuatkan, tetapi baru pada zaman Perjanjian Baru, hukum tersebut dialami. Dalam pengalaman ini, satu hukum menjadi banyak hukum. Jika kita menaati hukum ini ketika ia mengatur kita sehubungan dengan kekudusan Allah, kekudusan Allah akan ditenun ke dalam batin kita. Demikian pula, jika kita bekerja sama dengan hukum ini ketika ia mengatur kita berkenaan dengan keadilbenaran Allah, keadilbenaran Allah akan dibaurkan ke dalam karakter kita. Maka karakter, batin, dan bagian-bagian batin kita (pikiran, emosi, dan tekad kita) akan ditransformasi bukan hanya penampilannya melainkan juga sifatnya.
Allah di dalam Kristus sebagai Roh adalah hayat bagi kita. Allah Tritunggal ini, yang adalah hayat bagi kita, bekerja di dalam kita sebagai sebuah hukum. Fungsi utama dari sebuah hukum adalah untuk memerintah. Ketika seseorang hidup tanpa hukum, ia hidup tanpa pemerintahan. Sebaliknya, ketika seseorang menaati hukum, itu merupakan indikasi bahwa ia diatur dan diperintah oleh hukum. Hukum hayat bekerja secara konstan di dalam kita, mengatur kita dengan lembut, halus, dan teliti, tetapi sama sekali tidak lemah. Jika kita mengasihi Tuhan, kita akan bersedia mengikuti pengaturan ini dan tunduk kepada Allah. Cara untuk tunduk kepada Allah adalah dengan menuruti pengaturan batin tersebut. Jika kita tidak sesuai dengan pengaturan batin itu, ini menunjukkan bahwa ketundukan kita kepada Tuhan tidaklah sejati.
Dengan menuruti pengaturan hukum hayat dan tunduk kepada Allah, kita akan mengalami Kristus sebagai hayat dan bertumbuh di dalam hayat. Semakin kita bekerja sama dan bertumbuh dalam hayat, semakin fungsi kita dimanifestasikan. Manifestasi dari fungsi kita bergantung pada pertumbuhan kita. Kita dapat melihat hal ini dalam ruang lingkup jasmani. Semakin seorang anak bertumbuh, semakin fungsinya dimanifestasikan. Kita tidak bisa secara masuk akal mengharapkan anak berusia dua tahun untuk memiliki fungsi manusia yang matang, karena ia belum memiliki pertumbuhan yang cukup di dalam kehidupan fisiknya. Baik pertumbuhan maupun manifestasi fungsi rohani kita, keduanya bergantung pada kerja sama kita dengan pengaturan batin. Jika Anda tidak menaati pengaturan batin ini, meskipun Anda mungkin menghadiri perhimpunan, sering berdoa, membaca Alkitab, dan mengumpulkan banyak pengetahuan Kristen, Anda tidak akan bertumbuh dalam hayat rohani. Anda mungkin memiliki banyak hal, tetapi Anda tidak akan memiliki pertumbuhan hayat. Pertumbuhan hayat bergantung mutlak pada kerelaan mengikuti pengaturan batin dari Allah Tritunggal di dalam kita sebagai hukum hayat.
Standar pengaturan batin jauh lebih tinggi daripada standar tentang yang baik dan yang jahat. Secara umum, kita sebagai orang Kristen tidak memedulikan pengaturan batin. Sebaliknya, kita memedulikan standar tentang yang baik dan yang jahat. Menurut cara berpikir kita, meskipun kita mungkin tidak berbohong karena berbohong itu jahat, kita mungkin merasa cukup nyaman untuk bercanda, karena bercanda itu tidak jahat. Apakah standar kehidupan kita sehari‑hari? Sebagian besar dari kita harus mengakui bahwa standar yang kita gunakan untuk kehidupan sehari‑hari adalah standar tentang yang baik dan yang jahat. Kita semata‑mata memedulikan standar tentang yang baik dan yang jahat, serta kurang memperhatikan pengaturan batin dari hukum hayat. Selama suatu hal itu baik, tidak peduli bagaimana hukum hayat mengatur kita di dalam batin, kita tetap melakukannya. Hal ini membuktikan bahwa kita hidup dan berjalan menurut standar tentang yang baik dan yang jahat, bukannya menurut pengaturan batin dari hukum hayat; alih‑alih hidup melalui pohon hayat, kita sebenarnya hidup menurut pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.
Jika kita dapat membedakan kedua hal ini, kita akan mengetahui cara untuk mengalami Kristus sebagai hayat. Sebaliknya, jika kita tidak mengetahui perbedaan antara yang baik dan yang jahat dengan pengaturan batin dari hukum hayat, kita tidak akan tahu bagaimana mengalami Kristus sebagai hayat. Kita mungkin tahu bagaimana membedakan antara yang baik dan yang jahat, tetapi kita mungkin tidak tahu bagaimana mengalami Kristus sebagai hayat kita. Pengalaman akan Kristus sebagai hayat kita tidak terletak pada pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat; melainkan terletak pada pengaturan batin dari hukum hayat.
Pengaturan batin ini bukanlah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Sebaliknya, hal itu adalah salah satu dari sekian banyak butir dari satu hukum hayat—yaitu kekudusan Allah. Jika kita menaati pengaturan batin, akan ada banyak hal yang, di luar standar tentang yang baik dan yang jahat, tidak diizinkan untuk kita lakukan. Pengaturan batin adalah pekerjaan hayat ilahi menurut karakteristik‑karakteristik ilahi Allah. Dengan demikian, hal itu jauh lebih tinggi dan lebih dalam daripada standar tentang yang baik dan yang jahat.
Jika Anda hidup dan berjalan semata-mata menurut standar tentang yang baik dan yang jahat, paling jauh Anda hanya akan menjadi orang yang baik; Anda tidak akan pernah bisa ditransformasi menjadi manusia-Allah. Manusia‑Allah adalah orang yang memiliki Allah yang hidup di dalam dirinya dan yang mengaturnya sebagai hayat. Seorang manusia‑Allah memedulikan pengaturan batin ini. Semakin ia memedulikannya, semakin ia ditransformasi oleh Allah menjadi seorang manusia‑Allah. Ada banyak orang baik di dunia ini, tetapi kita sebagai orang Kristen tidak dipanggil oleh Allah untuk menjadi orang yang baik; Allah menentukan kita untuk menjadi manusia‑Allah. Kita menjadi manusia‑Allah dengan mengizinkan Allah untuk hidup di dalam kita, dengan membiarkan‑Nya mengatur kita setiap waktu, dan dengan menaati pengaturan batin‑Nya. Hanya dengan cara inilah kita akan ditransformasi.
Sumber꞉ Experiencing Christ as the Inner Life, Chp 4.