1 Tesalonika 5꞉19
“Janganlah padamkan Roh”
Satu Yohanes 1꞉1 mengatakan, “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami, yaitu tentang Firman hayat.” “Apa yang telah ada sejak semula” adalah Firman hayat. Kita mengetahui Injil Yohanes menulis dalam ayat pertama kitab itu, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama‑sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Dalam ayat pertama surat kirimannya yang pertama, seolah‑olah Yohanes sedang memberi tahu kaum beriman, “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah saya tulis dalam Injil saya, adalah Firman hayat.” Dalam ayat kedua, ia menambahkan sebuah keterangan sisipan꞉ “Dan hayat itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya serta bersaksi dan memberitakan kepada kamu hayat kekal, yang ada bersama‑sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami.” Kata hayat di sini merupakan kata benda khusus dan dapat ditulis dengan huruf kapital꞉ “Dan Hayat itu telah dinyatakan.” Sekali lagi, dari Injil Yohanes kita mengetahui bahwa hayat di sini adalah Putra Allah, Tuhan Yesus Kristus (11꞉25; 14꞉6).
Satu Yohanes 1꞉3 melanjutkan, “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu juga mempunyai persekutuan dengan kami. Dan sesungguhnya persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.” Untuk menyampaikan maksud yang terkandung dalam perkataan Yohanes ketika ia menulis kata‑kata ini, kita dapat menguraikan perkataannya sebagai berikut꞉ “Kami memberitakan hayat kepada kamu, tetapi kamu akan memperoleh persekutuan. Apa yang kami beritakan adalah hayat, tetapi apa yang akan kamu peroleh adalah persekutuan. Jika kamu menerima hayat yang kami beritakan kepadamu, kamu akan mempunyai persekutuan.” Jadi, persekutuan berasal dari hayat. Dalam ayat 4, Yohanes mengatakan, “Semuanya ini kami tuliskan kepada kamu supaya sukacita kami menjadi sempurna.” Yohanes melanjutkan dalam ayat 5 sampai 7a꞉ “Dan inilah berita yang telah kami dengar dari Dia dan yang kami sampaikan kepada kamu꞉ Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Jika kita mengatakan bahwa kita mempunyai persekutuan dengan Dia, tetapi kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan tidak melakukan kebenaran; tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, kita mempunyai persekutuan seorang dengan yang lain.” Dalam bagian pembukaan 1 Yohanes ini, kita melihat empat perkara꞉ hayat, persekutuan, sukacita, dan terang. Menurut ketujuh ayat ini, ketika kita menerima hayat ilahi melalui persekutuan yang disampaikan oleh rasul Yohanes, kita mempunyai persekutuan hayat, yang membuat kita penuh dengan sukacita dan membawa kita masuk ke dalam terang.
PERSEKUTUAN HAYAT
Dalam surat kirimannya yang pertama, Yohanes memberitahu kita cara yang benar dan tepat untuk mengalami hayat kekal itu. Cara mengalami hayat ilahi hanyalah dengan mengetahui persekutuan hayat ilahi. Setidaknya ada dua hal jasmani yang dapat kita gunakan untuk menggambarkan persekutuan hayat. Yang pertama adalah arus listrik. Arus listrik pada dasarnya adalah listrik yang mengalir. Ketika lampu dinyalakan, kita mempunyai aliran listrik, yaitu arus listrik. Namun, jika lampu tidak menyala, sekalipun listrik tetap tersedia, kita tidak mempunyai arus listrik yang beroperasi. Kita juga dapat menggambarkan persekutuan hayat dengan peredaran darah di dalam tubuh kita. Peredaran darah sebenarnya adalah darah itu sendiri yang beredar. Kedua ilustrasi ini membantu kita memahami persekutuan hayat. Persekutuan hayat pada dasarnya adalah aliran hayat ilahi.
Kita dapat bersaksi mengenai hal ini berdasarkan pengalaman kita sebagai kaum beriman. Semakin kita mengasihi Tuhan, meluangkan waktu bersama‑Nya, dan mengontak Dia, semakin deras arus ini mengalir di dalam kita. Jika kita memeriksa pengalaman kita, kita akan menyadari bahwa sebelum diselamatkan, kita tidak mempunyai aliran seperti ini di dalam kita. Baru sejak kita membuka diri kepada Tuhan dan menerima Dia sebagai Juruselamat dan hayat kita, aliran ini mulai ada di dalam kita. Cara yang tepat untuk mengalami Kristus sebagai hayat adalah dengan mempunyai aliran ini di dalam kita. Jika arus ini tidak mengalir di dalam kita, berarti ada sesuatu yang salah. Sama seperti sebuah ruangan yang telah dipasangi instalasi listrik tetapi tidak mempunyai arus listrik yang beroperasi, kita mungkin mempunyai Kristus sebagai hayat ilahi, tetapi kehilangan persekutuan hayat ilahi. Cara untuk mengetahui apakah kita berada dalam persekutuan, hidup oleh Kristus, dan mengalami Kristus adalah dengan memeriksa apakah ada aliran di dalam kita. Apakah kita mempunyai arus di dalam kita? Jika kita tidak mempunyai aliran atau jika aliran itu mulai surut, kita harus berseru kepada Tuhan dan membuka diri kepada‑Nya.
Ketika anda mempunyai aliran hayat, anda akan mempunyai sukacita. Sesungguhnya, adanya sukacita dalam diri berarti anda berada dalam aliran, dalam persekutuan hayat ilahi. Sebagai orang Kristen, kita tidak seharusnya terlalu berdiam diri. Karena kita begitu penuh dengan arus, aliran, dan luapan hayat ilahi di dalam kita, kita tidak dapat terus berdiam diri; kita harus berseru dan berbicara. Anda akan mendapati bahwa semakin anda mengungkapkan apa yang sedang mengalir di dalam anda, semakin persekutuan hayat mengalir di dalam anda. Inilah artinya menjadi seorang Kristen yang berada dalam persekutuan hayat ilahi. Kita tidak boleh memadamkan api yang sedang menyala di dalam kita (1 Tes. 5꞉19; Rm. 12꞉11). Dengan kata lain, kita tidak boleh menghentikan aliran persekutuan hayat di dalam kita.
TERANG HAYAT
Kita bukan hanya perlu mempunyai persekutuan hayat, tetapi juga perlu mengalami terang hayat. Jika persekutuan hayat adalah arus, maka terang hayat adalah penyinaran hayat ilahi di dalam kita. Ketika hayat di dalam kita bersinar, itulah terang. Di sini terdapat petunjuk lain untuk mengetahui apakah kita hidup oleh Kristus atau tidak. Ketika terang hayat bersinar di dalam kita, tidak ada kegelapan di dalam kita. Kita dapat mengetahui apakah kita hidup oleh Kristus dengan memeriksa apakah kita berada di dalam terang atau di dalam kegelapan. Ketika kita berada di dalam kegelapan, kita dapat bertengkar dengan saudara‑saudara, bahkan sampai kehilangan kesabaran, tetapi tidak merasa bahwa kita bersalah. Penyinaran terang hayat bukan hanya menerangi, tetapi juga memerintah. Terang itu sendiri bahkan merupakan kuasa yang memerintah. Jika malam ini kota tempat anda tinggal tidak mempunyai terang sama sekali, kekacauan akan melanda seluruh kota itu, dan banyak tindakan melanggar hukum serta kejahatan akan terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa terang adalah kuasa yang memerintah. Terang Tuhan, setiap kali bersinar di dalam kita, memerintah kita dan menjaga kita tetap berada dalam keteraturan.
Inilah rahasia untuk mengalami Kristus sebagai hayat secara praktis. Jika kita memperhatikan aliran dan penyinaran hayat di dalam kita, kita tidak akan kekurangan apapun lagi. Tentu saja, kita tetap perlu berdoa, membaca Kitab Suci, menghadiri pertemuan-pertemuan, dan bersekutu dengan kaum saleh. Namun, kita harus menyadari ini sebenarnya merupakan hasil dari aliran dan penyinaran tersebut. Pada saat yang sama, semua praktik ini adalah sarana yang melaluinya kita mengalami lebih banyak aliran dan penyinaran. Jika anda tidak mempunyai aliran dan penyinaran batiniah, anda adalah seorang Kristen yang mati yaitu seorang yang telah kehilangan persekutuan, arus hayat batiniah. Jika keadaanmu demikian, anda harus memulihkan kembali persekutuan hayat dengan datang kepada Tuhan, membereskan perkara dengan‑Nya, dan membiarkan dirimu dibereskan oleh‑Nya. Jika anda mengambil jalan ini, anda akan segera memperoleh kembali persekutuan itu.
Sumber꞉ Experiencing Christ as the Inner Life, Chp 2.