Pembacaan Alkitab꞉ Yes. 1꞉1; 2꞉1; 13꞉1; 15꞉1; Za. 12꞉1; Mal. 1꞉1; Kis. 1꞉14; 2꞉46; 6꞉4; 1 Kor. 14꞉4b
Ekonomi kekal Allah, yang adalah rencana Allah, adalah ekonomi rumah tangga‑Nya, administrasi rumah tangga‑Nya; penyaluran Allah, pendistribusian Allah, adalah proses dan sarana yang dengannya Dia merampungkan ekonomi‑Nya; untuk alasan ini, penyaluran Allah adalah bagi ekonomi Allah (1 Tim. 1꞉3‑4). Kristus adalah pusat, keliling, unsur, ruang lingkup, sarana, sasaran, dan tujuan ekonomi Allah; pada faktanya, seluruh isi ekonomi kekal Allah adalah Kristus (Mat. 17꞉5; Luk. 24꞉44). Kalau kita tidak mengenal ekonomi Allah, kita tidak akan memahami Alkitab; subjek utama Alkitab adalah ekonomi Allah, dan seluruh Alkitab adalah mengenai ekonomi Allah (Luk. 24꞉45; Ayb. 10꞉13).
Untuk melaksanakan ekonomi‑Nya, Allah harus memiliki hamba‑hamba yang setia, penyalur‑penyalur, yang menyalurkan suplai hayat ilahi bagi anak‑anak Allah (Luk. 12꞉42; Tit. 1꞉7). Kita semua harus menjadi hamba yang baik dan setia dari ekonomi Allah, orang‑orang yang menikmati Kristus dan meministrikan Kristus untuk menyalurkan Kristus sebagai berbagai kasih karunia Allah untuk menyuplai kaum saleh sebagai rumah tangga Allah (1 Kor. 4꞉1‑2; Ef. 3꞉2; 1 Ptr. 4꞉10; Ef. 2꞉19). Hari demi hari satu transmisi yang luar biasa harus terjadi; Allah sedang menyuplaikan Roh kasih karunia dengan limpah lengkap, dan kita harus menerima dan menyalurkan Roh kasih karunia senantiasa (Yoh. 1꞉16; Ibr. 10꞉29b; Gal. 3꞉2‑5; Ef. 3꞉2; 4꞉29). Kita perlu menjadi saluran‑saluran dari suplai limpah lengkap dari Roh kasih karunia, orang‑orang yang meministrikan, yang menyalurkan, firman kasih karunia Allah kepada kaum saleh bagi pertumbuhan mereka dalam hayat dan bagi kenikmatan mereka akan Kristus (Kis. 6꞉4; 20꞉32; 2 Kor. 3꞉6; Flp. 1꞉19‑25; Ibr. 10꞉29b).
Satu roh yang terbuka kepada Allah adalah kondisi untuk menerima beban dari Allah. Kita harus belajar menerima beban dan melepaskan beban melalui doa dalam persekutuan kita yang intim dengan Tuhan (Luk. 1꞉53; Mzm. 27꞉4; Yes. 59꞉16; Kol. 4꞉2). Wahyu yang diterima para nabi adalah beban yang mereka terima; tanpa beban, tidak ada ministri firman, tidak ada nubuat, bagi pembangunan gereja (Yes. 1꞉1; 2꞉1; 13꞉1; 15꞉1; Za. 12꞉1; Mal. 1꞉1; Kis. 6꞉4; 1 Kor. 14꞉4b). Beban kita adalah untuk melepaskan wahyu Allah kepada manusia, dan wahyu Allah dilepaskan melalui firman wahyu yang Allah berikan kepada kita (1 Kor. 2꞉11‑16). Ketika kita meministrikan firman Allah, perhatian kita haruslah apakah kita memiliki pembicaraan Allah, bukan topik pembicaraan kita; untuk memiliki pembicaraan Allah, orang yang meministrikan firman harus memiliki beban ( Mal. 2꞉7). Masalah terbesar dalam administrasi gereja dan dalam ministri firman adalah tidak memiliki beban dari Tuhan. Tanpa beban, semua aktivitas kita akan mati dan tidak efektif. Dengan beban, kita akan hidup dan berkembang. Memiliki beban adalah yang paling menanggulangi kita. Jika ada beban, ego berkurang dan ditanggulangi, karena ada hal-hal yang tidak diizinkan oleh beban kita untuk dilakukan, dan ada wilayah‑wilayah yang akan memerlukan diri kita ditanggulangi sebelum kita bisa melepaskan beban kita.
Kita harus berkoordinasi satu dengan yang lain dalam kesehatian (Kis. 1꞉14; 2꞉46). Berkat Allah adalah berdasarkan kesehatian kita, menjadi selaras di dalam roh dengan satu sama lain, memiliki koordinasi yang riil, dan memiliki keesaan yang sejati. Ketika kita meministrikan firman, bersekutu, dan berdoa, kita jangan mengkritik orang lain; secara khusus, ketika kita berdoa bersama yang lain, kita harus menghindari berdoa dengan sikap yang kontradiktif. Kita harus mutlak menghindari mengkritik orang lain dalam ministri firman; mengkritik orang lain memperlihatkan bahwa kita itu sempit, dan ini akan mengarah kepada perpecahan. Kita selalu perlu memiliki sikap menghormati, bekerja sama, dan berkoordinasi dengan yang lain; kita harus melayani orang lain menurut bagian kita dan menghormati bagian orang lain, karena kedua bagian itu telah dipercayakan kepada kita oleh Tuhan; setiap orang harus memiliki kerendahhatian untuk tidak menganggap bagiannya lebih tinggi daripada bagian orang lain (Flp. 2꞉3‑4).