Artikel

Diselamatkan dalam Hayat dari Individualisme dan Perpecahan

26 Jul 2026
6 menit baca

Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah melalui kematian Anak‑Nya, lebih‑lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup‑Nya! (Roma 5꞉10)
 

DISELAMATKAN DALAM HAYAT DARI INDIVIDUALISME

Surat Roma pasal lima ayat sepuluh merupakan dasar krusial yang membedakan antara pendamaian melalui kematian Kristus dan penyelamatan di dalam hayat‑Nya. Pendamaian adalah fakta obyektif yang telah dirampungkan di masa lampau, di mana melalui penebusan Kristus, kita dibenarkan dan segala sekatan antara kita dengan Allah telah disingkirkan. Namun, kehidupan Kristen tidak berhenti pada titik ini karena kita masih memerlukan proses penyelamatan subyektif yang terus berlangsung di dalam hayat Kristus untuk menangani berbagai masalah batiniah. Kitab Roma sendiri merupakan sebuah sketsa yang bergerak progresif dari pembenaran menuju hayat, dan akhirnya memuncak pada pembangunan gereja sebagai ekspresi korporat Tubuh Kristus. Pembenaran dan hayat bukanlah tujuan akhir Allah, melainkan sarana untuk mencapai sasaran tertinggi‑Nya, yaitu pembangunan sebuah rumah bagi tempat tinggal‑Nya.

Penghalang utama bagi terwujudnya pembangunan Tubuh Kristus bukanlah faktor luar, melainkan unsur‑unsur negatif yang menetap di dalam diri manusia yang telah jatuh. Rasul Paulus menyingkapkan tujuh hal negatif yang perlu ditanggulangi, mulai dari hukum dosa dalam daging, keterikatan dengan dunia, hingga hayat dan watak alamiah yang merupakan musuh Allah. Masalah yang paling mendalam adalah individualisme, di mana secara alamiah tidak ada seorang pun yang benar‑benar suka menjadi satu atau bergantung pada orang lain. Individualisme ini berakar kuat di dalam jiwa kita—yaitu pikiran, emosi, dan tekad—yang sering kali dipenuhi oleh konsepsi ganjil, imajinasi liar, serta kekerasan tekad yang ingin mengendalikan segala sesuatu. Orang‑orang yang masih hidup secara alamiah dan duniawi tidak mungkin dapat dibangun bersama karena ego mereka akan selalu menjadi unsur asing di dalam Tubuh. Rupa‑diri atau penampilan ego alamiah harus digantikan dengan keserupaan kepada gambar Putra Allah melalui proses transformasi yang metabolik. Penyelamatan dari individualisme dan perpecahan hanya mungkin terjadi jika hayat ilahi diizinkan untuk menjenuhi dan mengatur seluruh bagian batiniah kita.

Tuhan menggunakan lingkungan yang sangat praktis, seperti kehidupan pernikahan dan kehidupan gereja, sebagai laboratorium untuk menyingkapkan betapa menakutkannya kondisi ego kita yang sebenarnya. Pernikahan adalah pengaturan ilahi yang dirancang untuk memecahkan "kekudusan" palsu kita dan memaksa kita melihat kebutuhan akan penyelamatan hayat. Hidup gereja bahkan memberikan ujian yang lebih hebat melalui berbagai kesalahpahaman, yang semuanya bertujuan agar kita tidak lagi bersandar pada diri sendiri melainkan berserah sepenuhnya kepada belas kasihan Tuhan. Langkah praktis untuk bekerja sama dengan Allah adalah dengan menjaga hati agar tetap terbuka dan menaruh diri kita di atas mezbah melalui konsekrasi yang sungguh‑sungguh.

Kita harus rela membiarkan Tuhan menanggulangi pikiran, emosi, dan tekad kita agar segala hambatan batiniah disingkirkan demi pembangunan sejati. Diselamatkan di dalam hayat berarti membiarkan Kristus benarbenar hidup di dalam kita, menggantikan "aku" yang telah disalibkan. Ketika kita berhenti menyalahkan situasi atau orang lain dan mulai berterima kasih atas penyingkapan ego kita, maka hayat ilahi akan memiliki jalan untuk menyelamatkan kita dari individualisme. Hasil akhir dari penyerahan diri ini adalah terbentuknya Tubuh Kristus di mana setiap anggota saling terikat satu sama lain dalam keharmonisan hayat.


DISELAMATKAN DALAM HAYAT DARI PERPECAHAN

Surat Roma 5꞉10 menggarisbawahi kebenaran mendalam bahwa meskipun kita telah diperdamaikan dengan Allah melalui kematian Kristus, kita masih perlu diselamatkan secara subjektif di dalam hayat‑Nya dari berbagai hal negatif batiniah, termasuk perpecahan. Perpecahan merupakan unsur yang sangat berakar dalam hayat alamiah manusia, bahkan sifatnya jauh lebih buruk dan agresif dibandingkan dengan individualisme. Jika seorang yang individualistis cenderung hanya ingin dibiarkan sendiri dan tidak diganggu, seorang yang memiliki sifat pemecah belah justru secara aktif membentuk kelompok‑kelompok tertentu dan mengontaki orang lain dengan tujuan memisahkan mereka dari kesatuan Tubuh.

Sementara Roma pasal 12 membahas tentang pengubahan atau transformasi melalui pembaruan pikiran demi pembangunan Tubuh, Roma pasal 14 dan 15 secara khusus menyingkapkan bagaimana hayat Kristus menyelamatkan kita dari sifat perpecahan melalui praktik menerima kaum saleh. Kita harus menyadari bahwa dalam diri setiap manusia yang belum diubah, terdapat kecenderungan kuat untuk pecah, dan satusatunya jalan keluar adalah melalui pertumbuhan hayat yang akan menguduskan watak kita dari sifat‑sifat yang merusak persekutuan. Penyelamatan di dalam hayat ini bukan sekadar pengetahuan doktrinal, melainkan sebuah proses metabolis di mana unsur ilahi menggantikan kecenderungan alamiah kita yang selalu ingin memisahkan diri berdasarkan preferensi pribadi.

Praktik nyata dari penyelamatan hayat dari perpecahan ini adalah kesediaan untuk menerima semua orang Kristen sejati tanpa memperdebatkan perbedaan pendapat atau penafsiran Alkitab yang bersifat lahiriah. Dasar penerimaan kita bukanlah kesamaan praktik—seperti cara makan atau pemeliharaan hari‑hari tertentu—melainkan iman penyelamatan yang sama terhadap persona dan pekerjaan Tuhan Yesus, yakni inkarnasi, kematian, kebangkitan, dan kenaikan‑Nya. Rasul Paulus menekankan bahwa perkara makan dan minum serta liturgi luar hanyalah bayang‑bayang, sedangkan wujud atau realitas sejatinya adalah Kristus sendiri. Allah sebenarnya tidak memperhatikan hari‑hari atau makanan tersebut, melainkan hanya memperhatikan Kristus yang dilambangkan oleh hal‑hal tersebut. Sikap memaksakan penafsiran pribadi kepada orang lain, baik mengenai baptisan, cara memuji Tuhan, atau praktik rohani lainnya, merupakan bukti nyata dari kekurangan hikmat dan kuatnya unsur perpecahan di dalam diri kita. Kaum beriman yang merasa lebih kuat dalam iman wajib memiliki hati yang terbuka untuk menerima dan memperhatikan mereka yang masih lemah imannya agar kesatuan tidak terganggu oleh penghakiman timbal balik. Dengan mengesampingkan segala sesuatu yang bukan berasal dari Kristus, kita belajar untuk berfokus hanya pada Kristus sebagai pusat satu‑satunya dalam persekutuan gereja.

Penyelamatan tuntas dari perpecahan hanya dapat dicapai melalui pertumbuhan hayat yang sejati, di mana perawakan Kristus di dalam kita semakin bertambah besar dan menggeser opini‑opini manusiawi kita. Semakin seseorang dewasa dalam hayat, ia tidak akan lagi mengejar pertanyaanpertanyaan doktrinal yang bersifat memisahkan, melainkan mulai mengapresiasi dan menikmati kadar Kristus yang ada pada orang beriman lainnya. Pendirian kita dalam pemulihan Tuhan adalah kesatuan dengan seluruh orang Kristen sejati, tanpa mengambil nama‑nama denominasi yang justru mempertegas posisi yang terpecah belah.

Kita harus menerima jalan Tuhan dalam hidup gereja sebagai satu‑satunya cara untuk terus maju dan menemukan perhentian batiniah yang memuaskan. Berada dalam kesatuan bukan berarti kita tidak memiliki perbedaan pandangan, melainkan kita rela meletakkan ego kita demi kepentingan ekonomi Allah yang jauh lebih besar. Belas kasihan Tuhan adalah faktor kunci yang memungkinkan kita untuk tetap terpelihara dalam kesatuan yang riil di tengah situasi kekristenan yang sangat terfragmentasi saat ini. Dengan terus bertumbuh dalam hayat dan menjaga kewaspadaan terhadap unsur perpecahan di batin, kita akan dibangun menjadi satu Tubuh yang utuh bagi kemuliaanNya.