Artikel

Pembentukan Jabatan Kerasulan Paulus

07 Nov 2026
6 menit baca

Pembacaan Alkitab꞉ Gal. 1꞉15‑24, 2꞉1‑14

Doa baca꞉

“berkenan menyatakan Anak‑Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi...” (Galatia 1꞉16)

PEMBENTUKAN JABATAN KERASULAN PAULUS

Pembentukan jabatan kerasulan Paulus sebagaimana diwahyukan dalam Galatia satu ayat lima belas sampai dua puluh empat merupakan pola teladan yang berlaku bagi seluruh kaum beriman hari ini. Konsepsi tradisional yang menganggap bahwa jabatan rasul hanya terbatas pada figur unik seperti Petrus atau Paulus adalah pandangan yang keliru, sebab menurut hayat seluruh orang beriman adalah putra‑putra Allah dan saudara-saudara Kristus yang dipanggil untuk menjadi orang‑orang yang diutus Allah. Di dalam kehidupan rohani, kaum beriman menurut kasih adalah mempelai perempuan Kristus, namun menurut hayat semua orang percaya adalah laki‑laki yang membawa hayat Allah yang hidup. Dalam pelaksanaan ekonomi ilahi, pemisahan Paulus sejak dari kandungan ibunya merupakan penggenapan nyata dalam waktu dari pemilihan kekal yang telah ditetapkan sebelum dunia dijadikan. Seluruh kedaulatan Allah bekerja secara sempurna mengatur waktu kelahiran, lokasi geografi, latar belakang keluarga, lingkungan tempat tinggal, hingga pendidikan setiap orang pilihan agar tepat pada waktunya dipanggil melalui anugerah‑Nya di dalam Kristus, bukan melalui syariat hukum Taurat Musa. Panggilan anugerah ini memisahkan kaum beriman dari tradisi keagamaan lahiriah dan menempatkan mereka secara mutlak dalam pelayanan hayat.

Inti utama dari pembentukan jabatan kerasulan ini berakar pada berkenannya Allah untuk mewahyukan Putra‑Nya di dalam batin manusia. Pewahyuan batiniah mengenai Persona Kristus yang hidup ini tidak sekadar memberikan pengajaran doktrinal luaran, melainkan menambahkan sifat dan esensi ilahi ke dalam sifat insani manusia sebagai hayat kekal. Setelah mengalami pewahyuan Putra Allah di dalam batinnya, Paulus tidak berunding dengan manusia atau mencari petunjuk serta pengesahan dari manusia mana pun. Ia juga tidak segera pergi ke Yerusalem kepada mereka yang telah menjadi rasul sebelum dia, melainkan memilih untuk berangkat menyingkir ke tanah Arab. Di tempat yang jauh dari pengaruh kebudayaan Yahudi dan kekristenan tradisional tersebut, Paulus meluangkan waktu yang tenang dan jernih untuk berdoa, membandingkan pengalaman batiniahnya dengan firman Perjanjian Lama yang pernah dipelajarinya melalui pengajaran Gamaliel, serta menerima terang dan wahyu langsung dari Tuhan tanpa melibatkan pengaruh tradisi atau kebiasaan agama manusiawi. Berkontak dengan manusia sering kali hanya membawa kekecewaan, sehingga kaum beriman diajar untuk menyerahkan segala perkara langsung kepada Tuhan.

Meskipun Paulus menolak untuk berunding dengan manusia, ia sama sekali tidak mengisolasi dirinya dari anggota Tubuh Kristus yang lain. Tiga tahun kemudian, Paulus pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi Kefas dan tinggal bersama Yakobus selama lima belas hari guna memelihara persekutuan yang wajar di antara kaum beriman. Selanjutnya, perjalanan Paulus ke daerah Siria dan Kilikia di wilayah orang-orang kafir makin menegaskan fakta bahwa Injil dan kerasulannya tidak diterima dari manusia mana pun. Bahkan, rupa fisik Paulus tetap tidak dikenal secara pribadi oleh jemaat‑jemaat Kristus di Yudea. Gereja‑gereja di Yudea hanya mendengar berita bahwa orang yang dahulu menganiaya mereka kini memberitakan iman yang pernah hendak dibinasakannya, sehingga mereka memuliakan Allah atas hasil pekerjaan hayat yang dahsyat itu. Melalui seluruh proses pembentukan ini, setiap kaum beriman diajar secara nyata untuk bersandar pada wahyu batiniah Kristus, menghindari tradisi agama, memelihara persekutuan Tubuh, dan menyerahkan seluruh keberadaan bagi kemuliaan Allah Bapa.


KESETIAAN PAULUS DAN KETIDAKSETIAAN PETRUS TERHADAP KEBENARAN INJIL

Penyingkapan kebenaran di dalam Galatia pasal dua membukakan kontras yang sangat mendalam antara kesetiaan rasul Paulus dan ketidaksetiaan Petrus terhadap kebenaran Injil. Pembentukan kerasulan Paulus menjadi contoh yang sangat berharga bagi kehidupan kaum beriman hari ini, di mana ia memperlihatkan teladan kejujuran, keberanian, dan kesetiaan yang dipadukan dengan roh lemah lembut untuk memulihkan kaum beriman. Paulus secara tegas menolak permainan politik di dalam gereja, sebab politik keagamaan merupakan bentuk dusta jahat yang bersumber langsung dari Iblis. Ketika ke Yerusalem setelah empat belas tahun bersama Barnabas dan Titus, Paulus tidak bergerak menurut sistem organisasi manusia, melainkan terkendali secara penuh oleh pimpinan wahyu Tuhan.

Sewaktu membentangkan Injil secara tersendiri kepada para pemuka gereja, Paulus sengaja menolak menyunatkan Titus guna mempertahankan kebebasan rohani di dalam Kristus. Di dalam ekonomi ilahi, kedatangan Kristus telah mengakhiri tiga tiang utama Yudaisme, yaitu sunat, hari Sabat, dan peraturan makanan kudus. Oleh karena itu, Paulus menolak untuk mundur atau tunduk sesaat pun kepada desakan saudara‑saudara palsu, agar realisasi dan kemurnian kebenaran Injil dapat tetap tinggal utuh bagi seluruh kaum beriman.

Meskipun Yakobus, Kefas, dan Yohanes dipandang sebagai tiang utama jemaat di Yerusalem, Paulus tidak menerima ajaran atau petunjuk baru apa pun dari mereka. Hal ini disebabkan karena Paulus mengenal Kristus secara rohani di dalam roh, melampaui pengenalan lahiriah menurut daging yang dimiliki oleh para rasul di Yerusalem. Pengetahuan Paulus yang melimpah mengenai manusia baru, roh yang dilahirkan kembali, dan perbauran sifat ilahi dengan sifat insani membuktikan betapa dalamnya wahyu yang dipercayakan kepadanya. Kepemimpinan dalam gereja bukanlah organisasi kekal, melainkan bersifat rohani yang dapat berubah sesuai dengan keadaan rohani seseorang. Ketidaksetiaan Petrus terungkap secara nyata sewaktu ia berada di Antiokhia. Meskipun telah menerima visi rohani mengenai penghapusan pemisahan makanan dalam Kisah Para Rasul sepuluh, Petrus justru mengundurkan diri dan memisahkan diri dari makan bersama kaum beriman bukan Yahudi karena takut kepada kelompok yang bersunat dari kalangan Yakobus. Sikap kompromi ini merupakan kemunafikan serius yang merusak realisasi Injil, bahkan menyeret Barnabas dan orang‑orang Yahudi lainnya ke dalam tindakan munafik tersebut.

Karena kelakuan mereka tidak sesuai dengan kebenaran Injil, Paulus dengan penuh keberanian menegur Petrus secara terbuka di hadapan seluruh jemaat. Paulus mempertanyakan kemunafikan Petrus yang memaksa kaum beriman bukan Yahudi untuk hidup berdasarkan orang Yahudi, padahal Petrus sendiri telah hidup merdeka seperti orang bukan Yahudi. Teguran terus terang tanpa memandang muka ini membuktikan kesetiaan murni Paulus demi mempertahankan realitas Injil bagi seluruh gereja. Kesetiaan Paulus di Antiokhia menjadi titik balik penting yang membebaskan kaum beriman dari belenggu sunat dan perhambaan hukum Taurat Musa. Andaikata Paulus tidak setia berdiri bagi kebenaran pada waktu itu, kemurnian berita Injil tentu akan menjadi kabur bagi generasi berikutnya. Melalui peristiwa bersejarah ini, kaum beriman diajar secara nyata untuk tidak bergantung pada senioritas lahiriah, menolak politik keagamaan, serta senantiasa berjalan menurut wahyu Roh di dalam roh kita. Dengan demikian, seluruh kehidupan gereja dapat bertumbuh secara sehat dan menikmati kemerdekaan sejati di dalam Kristus semata-mata melalui iman.