Artikel

Pemilihan Allah, Nasib Kita

21 May 2026
5 menit baca

“Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati. Jadi, hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada belas kasihan Allah.”  (Roma 9:15-16)
 

Pemilihan Allah merupakan nasib kekal kita yang sepenuhnya didirikan di atas kedaulatan-Nya, bukan berdasarkan perbuatan manusia atau kelahiran alamiah, melainkan mutlak tergantung pada Allah yang memanggil menurut kesukaan-Nya sendiri. Rasul Paulus dalam surat Roma pasal sembilan menguraikan bahwa nasib kita sebagai umat pilihan tidak ditentukan oleh usaha keras atau kehendak pribadi, melainkan oleh keputusan ilahi yang telah ditetapkan bahkan sebelum seseorang dilahirkan atau melakukan sesuatu yang baik maupun jahat. Hal ini terlihat nyata dalam kasus Yakub dan Esau, di mana Allah memilih Yakub dan membenci Esau untuk meneguhkan bahwa rencana pemilihan-Nya bukan berdasarkan jasa manusia, melainkan berdasarkan panggilan-Nya yang berdaulat.

Meskipun kita sering kali memiliki kedambaan yang sangat kuat—seperti Paulus yang bahkan rela terkutuk demi keselamatan bangsanya—kita harus menyadari bahwa ekonomi Allah berjalan di atas prinsip bahwa tidak semua yang berasal dari keturunan jasmani adalah anak-anak Allah, melainkan hanya anak-anak perjanjianlah yang dianggap sebagai keturunan yang benar. Kelahiran kedua melalui janji Allah adalah prasyarat mutlak untuk menjadi bagian dari kaum pilihan ini, karena pemilihan Allah tidak pernah terbatas pada garis keturunan daging, melainkan melampauinya untuk menjangkau mereka yang telah ditentukan sejak semula dalam rencana kekal-Nya.

Dasar dari pemilihan yang luar biasa ini terletak pada belas kasihan Allah yang menjangkau jauh lebih dalam daripada kasih karunia, karena belas kasihan disediakan bagi mereka yang berada dalam kondisi yang tidak layak, melarat, dan terpisah jauh dari Allah. Jika kasih karunia diberikan kepada mereka yang memiliki kedudukan sepadan, maka belas kasihan Allah adalah jembatan yang melintasi jurang kehinaan manusia untuk membawa kita masuk ke dalam kenikmatan hayat-Nya. Kita harus memahami bahwa setiap perkara dalam hidup kita, mulai dari keselamatan hingga pertumbuhan rohani, tidak bergantung pada kehendak atau daya upaya manusia, melainkan sepenuhnya kepada Allah yang menyatakan belas kasihan-Nya. Bahkan tokoh seperti Yakub, yang secara manusiawi dipandang licik dan penuh tipu muslihat, justru menjadi objek belas kasihan Allah untuk membuktikan bahwa Allah berkuasa menaruh belas kasihan kepada siapa pun yang Ia kehendaki tanpa dapat dibantah oleh logika manusia. Belas kasihan ini pulalah yang melayakkan kita untuk mengambil bagian dalam kasih karunia-Nya, sehingga dalam setiap kesesakan, kebutuhan pertama kita adalah beroleh belas kasihan-Nya barulah kemudian kita beroleh kasih karunia untuk mendapat pertolongan tepat pada waktunya.

Sebagai Pencipta, Allah memiliki kedaulatan mutlak seperti seorang Tukang Periuk yang berkuasa atas tanah liat-Nya, di mana Ia membentuk setiap manusia untuk menjadi bejana-bejana bagi maksud tujuan tertentu. Wahyu yang sangat unik dalam surat Roma menyingkapkan bahwa tujuan utama manusia diciptakan adalah untuk menjadi wadah atau bejana yang menampung Allah sendiri sebagai isinya. Kita bukanlah sekadar perkakas seperti palu atau kapak yang hanya digunakan untuk bekerja, melainkan bejana tanah liat yang dirancang untuk diisi oleh harta mustika, yaitu Allah Tritunggal dalam kemuliaan-Nya. Berdasarkan kedaulatan-Nya, Allah telah mempersiapkan kita sejak semula untuk menjadi bejana belas kasihan yang akan mengekspresikan hakiki-Nya, sehingga kekayaan kemuliaan-Nya dapat dinyatakan melalui kesatuan organik antara Sang Pencipta dan makhluk ciptaan-Nya. Sasaran kekal dari pemilihan ini bukanlah sekadar menyelamatkan kita dari hukuman, melainkan untuk membentuk kita menjadi bejana yang satu dengan-Nya dalam hayat dan sifat, agar Ia dapat dimuliakan di dalam dan bersama kita sampai selamanya di dalam Yerusalem Baru.

Kristus hadir sebagai tujuan akhir sekaligus kegenapan hukum Taurat, yang melalui proses inkarnasi, kematian, dan kebangkitan-Nya telah mengakhiri segala tuntutan peraturan lahiriah bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Banyak orang, termasuk bangsa Israel, gagal memahami kebenaran Allah karena mereka terlalu giat mendirikan kebenaran mereka sendiri melalui usaha memelihara hukum Taurat, padahal Kristus telah menyudahi sistem tersebut di atas salib. Dalam kebangkitan-Nya, Kristus telah bertransformasi menjadi Roh pemberi-hayat dan Firman hidup yang sangat dekat dengan kita, bahkan berada di dalam mulut dan hati kita. Ia telah melewati proses panjang dari surga turun ke bumi melalui inkarnasi, lalu turun ke jurang maut atau alam maut untuk menang atas kuasa kegelapan, hingga akhirnya bangkit dan naik ke surga. Kini, Kristus yang telah diproses ini tersedia secara universal bagi siapa saja, kapan saja, dan di mana saja, layaknya udara atau nafas yang dapat segera dihirup oleh setiap orang yang mau membuka diri kepada-Nya.

Secara praktis, jalan untuk mengisi bejana kita dengan segala kekayaan Kristus adalah melalui tindakan menyeru nama Tuhan Yesus dengan mulut dan percaya dengan hati. Setiap manusia diciptakan sebagai bejana yang bermulut agar ia dapat membuka mulutnya lebar-lebar untuk dipenuhi oleh kekayaan Tuhan yang melimpah bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Menyeru nama Tuhan bukan hanya dilakukan saat pertama kali beroleh selamat, melainkan merupakan praktik pernafasan dan minum rohani yang terus-menerus untuk menikmati hayat-Nya setiap hari. Dengan menyeru "Oh Tuhan Yesus!", kita segera berada di dalam Roh, menghirup-Nya sebagai nafas hayat dan meminum-Nya sebagai air hayat yang menyegarkan. Praktik mulia ini telah dilakukan oleh kaum saleh sejak generasi Enos, Abraham, hingga kaum beriman di Perjanjian Baru, karena mereka menyadari bahwa menyeru Tuhan adalah cara paling efektif untuk menimba air dari mata air keselamatan dan menikmati segala persediaan Allah yang lezat.

Ekonomi pemilihan Allah pada akhirnya bertujuan untuk memperoleh sekelompok orang yang berfungsi sebagai bejana yang penuh dengan kekayaan Kristus guna mengekspresikan Dia secara korporat. Kristus yang diberitakan dan didengar di seluruh dunia kini menanti respon kita untuk diterima sebagai Firman hidup yang menyuplai segala kebutuhan batiniah kita. Kita harus menyadari bahwa kedudukan kita sebagai bejana belas kasihan akan tetap kosong dan menyedihkan jika kita tidak menggunakan mulut dan hati kita untuk diisi oleh Kristus secara berkelimpahan. Melalui penyaluran hayat yang terus-menerus ini, kita tidak lagi menjadi individu yang mandiri, melainkan menjadi bagian dari satu tujuan besar Allah di mana Ia hidup di batin kita agar kita boleh hidup oleh Dia. Dengan demikian, pemilihan Allah, belas kasihan-Nya, kedaulatan-Nya, dan kehadiran Kristus sebagai Roh pemberi-hayat semuanya bermuara pada satu titik: menjadikan kita bejana mulia yang memanifestasikan keindahan dan kemuliaan Allah Tritunggal hingga kekekalan.
 

Pembacaan Alkitab: Roma 9