Dalam Yakobus pasal tiga terdapat dua kata yang penting – lidah dan hikmat. Sebenarnya mengekang lidah kita ialah jalan untuk memiliki hikmat. Kebodohan berkaitan dengan terlalu banyak bicara dan hikmat berkaitan dengan mengekang lidah kita. Dengan kata lain, jika kita membatasi lidah kita, kita berhikmat. Berhikmat dalam praktek kristiani yang sempurna berkait-an dengan pengekangan lidah kita.
Macam-macam masalah dalam kehidupan pernikahan sering kali disebabkan oleh lidah. Jika suami dan istri mengendalikan lidah, banyak masalah akan terselesaikan. Akan tetapi karena sebagian orang mempunyai lidah yang sukar dikendalikan, maka lidahnya menimbul-kan masalah yang serius, dan bahkan dapat mengakibatkan perceraian.
Mengenai pemakaian yang tepat terhadap lidah, kita perlu memohon hikmat kepada Allah. Hikmat yang dibicarakan Yakobus dalam pasal 3 merupakan lanjutan dari yang telah disebut dalam pasal 1. "Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah." (1:19) Berkata-kata sering bisa menimbulkan kemarahan. Tetapi jika kita membatasi lidah kita, kita juga akan membatasi kemarahan kita. Sebagai contoh, misalnya Anda agak kurang senang terhadap seseorang dan Anda menunjukkan kesalahannya kepadanya. Dengan hanya berbicara seperti itu saja mungkin Anda telah menyulut "korek api" yang bisa menyalakan "kebakaran" yang besar. Tetapi jika Anda mengendalikan pembicaraan Anda terhadapnya atas hal itu, kemarahannya tidak akan timbul.
Dalam ayat 13, menurut konteksnya, hikmat yang lahir dari kelemahlembutan di sini tentu mengacu kepada pembatasan dalam berkata-kata. Kelemahlembutan yang demikian sama dengan peramah dan penurut (ay. 17), yang berlawanan dengan perasaan iri hati dan ambisi diri sendiri dalam memegahkan diri dan berdus-ta melawan kebenaran (ay. 14). Jika kita tidak memiliki hikmat, kita tidak dapat memiliki budi atau pengertian. Karena itu, 1 Paulus berdoa agar Allah mengaruniai kita roh hikmat (Ef. 1).
Apakah hikmat itu? Sangat sulit untuk mengatakan apakah hikmat itu, karena hikmat itu abstrak. Hikmat sebenarnya ada di dalam roh kita. Ketika kita melatih roh kita, tinggal di dalam roh dalam segala situasi, dan melakukan segala sesuatu menurut roh, kita akan memiliki hikmat. Dalam 3:17 ia mengatakan perihal "hikmat yang dari atas." Di sini, kata "dari atas" berarti dari Allah. Segala sesuatu yang datang kepada kita dan berasal dari Allah pastilah menjamah roh kita (bd. Yoh. 4:24).
Ayat 17 mengatakan hikmat yang dari atas adalah lembut. Lembut berarti lemah lembut, lunak, ramah tamah. Lembut juga mengandung arti mengalah. Penurut, atau patuh; yaitu bersedia untuk patuh, puas dengan apa yang lebih sedikit daripada yang semestinya. Selain itu, belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Inilah sifat-sifat yang berasal dari hikmat yang masuk ke dalam roh kita yang asalnya dari atas. Jika kita ingin memiliki hikmat ini, kita perlu berdoa untuk hal ini.
Disadari atau tidak, penghalang terbesar dari doa-doa kita adalah keterlibatan kita dalam pelesiran, dunia, dan godaan si Iblis. Itulah sebabnya dalam 4:1-10 Yakobus kemudian berbicara mengenai menanggulangi pelesiran, dunia, dan Iblis. Dalam 4:4 Yakobus mengguna-kan kata "orang-orang yang berzina" (ay. 4, Tl.). Allah dan Kristus adalah Suami kita (Yes. 54:5; 2 Kor. 11:2). Kita seharusnya murni dan mengasihi Dia saja dengan seluruh diri kita (Mrk. 12:30).
Persahabatan dengan dunia adalah kasih terhadap dunia untuk kesenangan daging. "Dunia" adalah sistem Iblis. Bahasa Yunani untuk dunia, kosmos, mengacu kepada suatu sistem bentukan Iblis untuk merampas manusia dan menentang Allah di bumi.
Dalam 4:5 Yakobus meneruskan ucapannya, "Roh yang berhuni di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!" (Tl.). Ketika Allah men-dapatkan kita menjadi istri-Nya, Dia menaruh Roh-Nya ke dalam kita untuk membuat kita menjadi satu dengan Dia (1 Kor. 6:19, 16-17). Dia adalah Allah yang cemburu (Kel. 20:5), dan Roh-Nya cemburu kepada kita dengan cemburu Allah (2 Kor. 11:2), rindu, mendambakan dengan cemburu, agar kita tidak bersahabat dengan musuh-Nya, dan pada saat yang sama menjadi pengasih-Nya. Kata "berhuni" dalam 4:5 juga boleh diterjemahkan dengan "mem-buat rumah-Nya". Roh yang berhuni membuat rumah-Nya di dalam kita agar Dia bisa menduduki seluruh diri kita (lihat Ef. 3:17) bagi Allah, supaya kita sepenuhnya bagi Suami kita.
- Perkembangbiakan di Yerusalem, Yudea, dan Samaria melalui Ministri Sekelompok Sekerja Petrus (14)
- Perkembangbiakan di Yerusalem, Yudea, dan Samaria melalui Ministri Sekelompok Sekerja Petrus (13)
- Perkembangbiakan di Yerusalem, Yudea, dan Samaria melalui Ministri Sekelompok Sekerja Petrus (12)
- Perkembangbiakan di Yerusalem, Yudea, dan Samaria melalui Ministri Sekelompok Sekerja Petrus (11)
- Perkembangbiakan di Yerusalem, Yudea, dan Samaria melalui Ministri Sekelompok Sekerja Petrus (10)
- Perkembangbiakan di Yerusalem, Yudea, dan Samaria melalui Ministri Sekelompok Sekerja Petrus (9)
- PENYALURAN ALLAH TRITUNGGAL UNTUK MENGHASILKAN TEMPAT TINGGAL-NYA (4)
- PENYALURAN ALLAH TRITUNGGAL UNTUK MENGHASILKAN TEMPAT TINGGAL-NYA (3)
- PENYALURAN ALLAH TRITUNGGAL UNTUK MENGHASILKAN TEMPAT TINGGAL-NYA (2)
- PENYALURAN ALLAH TRITUNGGAL UNTUK MENGHASILKAN TEMPAT TINGGAL-NYA (1)
- Pembasuhan Hayat dalam Kasih untuk Mempertahankan Persekutuan (2)
- Pembasuhan Hayat dalam Kasih untuk Hayat dalam Kasih untuk Mempertahankan Persekutuan (1)
- Hasil dan Perkembangbiakan Hayat (2)
- Hasil dan Perkembangbiakan Hayat (1)
- KEPERLUAN ORANG YANG MATI — KEBANGKITAN HAYAT (2)