Home
Aktifitas
Arus Hayat
Arus Hayat Radio
Hubungi Kami
Artikel Terbaru
Perkembangbiakan di Yerusalem, Yudea, dan Samaria melalui Ministri Sekelompok Sekerja Petrus (14)
Perkembangbiakan di Yerusalem, Yudea, dan Samaria melalui Ministri Sekelompok Sekerja Petrus (13)
Perkembangbiakan di Yerusalem, Yudea, dan Samaria melalui Ministri Sekelompok Sekerja Petrus (12)
Perkembangbiakan di Yerusalem, Yudea, dan Samaria melalui Ministri Sekelompok Sekerja Petrus (11)
Perkembangbiakan di Yerusalem, Yudea, dan Samaria melalui Ministri Sekelompok Sekerja Petrus (10)
Perkembangbiakan di Yerusalem, Yudea, dan Samaria melalui Ministri Sekelompok Sekerja Petrus (9)
PENYALURAN ALLAH TRITUNGGAL UNTUK MENGHASILKAN TEMPAT TINGGAL-NYA (4)
PENYALURAN ALLAH TRITUNGGAL UNTUK MENGHASILKAN TEMPAT TINGGAL-NYA (3)
PENYALURAN ALLAH TRITUNGGAL UNTUK MENGHASILKAN TEMPAT TINGGAL-NYA (2)
PENYALURAN ALLAH TRITUNGGAL UNTUK MENGHASILKAN TEMPAT TINGGAL-NYA (1)
Pembasuhan Hayat dalam Kasih untuk Mempertahankan Persekutuan (2)
Pembasuhan Hayat dalam Kasih untuk Hayat dalam Kasih untuk Mempertahankan Persekutuan (1)
Hasil dan Perkembangbiakan Hayat (2)
Hasil dan Perkembangbiakan Hayat (1)
KEPERLUAN ORANG YANG MATI — KEBANGKITAN HAYAT (2)
Menanggulangi Tutur Kata dan Berperilaku dalam Hikmat bagi Hidup Gereja

Dalam Yakobus pasal tiga terdapat dua kata yang penting – lidah dan hikmat. Sebenarnya mengekang lidah kita ialah jalan un­tuk memiliki hikmat. Kebodohan berkaitan dengan terlalu banyak bicara dan hikmat berkaitan dengan mengekang lidah kita. Dengan kata lain, jika kita membatasi lidah kita, kita berhikmat. Berhikmat da­lam praktek kristiani yang sempurna berkait-an dengan pengekangan lidah kita.

Macam-macam masalah dalam kehidupan pernikahan sering kali disebabkan oleh lidah. Jika suami dan istri me­ngendalikan lidah, banyak masalah akan terselesaikan. Akan tetapi karena sebagian orang mempunyai lidah yang sukar dikendalikan, maka lidahnya menimbul-kan masalah yang serius, dan bahkan dapat meng­akibatkan perceraian.

Mengenai pemakaian yang tepat terhadap lidah, kita perlu memohon hik­mat kepada Allah. Hikmat yang dibicarakan Yakobus dalam pasal 3 merupakan lanjutan dari yang telah disebut dalam pasal 1. "Setiap orang hen­daklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berka­ta-kata, dan juga lambat untuk marah." (1:19) Berkata-kata sering bisa menimbulkan kemarahan. Tetapi jika kita membatasi lidah kita, kita juga akan membatasi kemarahan kita. Seba­gai contoh, misalnya Anda agak kurang senang terhadap seseorang dan Anda menunjukkan kesalahannya kepadanya. Dengan hanya berbicara seperti itu saja mungkin Anda te­lah menyulut "korek api" yang bisa menyalakan "kebakar­an" yang besar. Tetapi jika Anda mengendalikan pembica­raan Anda terhadapnya atas hal itu, kemarahannya tidak akan timbul.

Dalam ayat 13, menurut konteksnya, hikmat yang lahir dari kelemahlembutan di sini tentu mengacu kepada pembatasan dalam berkata-kata. Kelemahlembutan yang demikian sama de­ngan peramah dan penurut (ay. 17), yang berlawanan dengan perasaan iri hati dan ambisi diri sendiri dalam meme­gahkan diri dan berdus-ta melawan kebenaran (ay. 14). Jika kita tidak memiliki hikmat, kita tidak dapat memiliki budi atau pengertian. Karena itu, 1 Paulus berdoa agar Allah menga­runiai kita roh hikmat (Ef. 1).

Apakah hikmat itu? Sangat sulit untuk mengatakan apakah hikmat itu, karena hikmat itu abstrak. Hikmat sebenarnya ada di dalam roh kita. Ketika kita melatih roh kita, tinggal di dalam roh dalam segala situasi, dan melakukan segala sesuatu menu­rut roh, kita akan memiliki hikmat. Dalam 3:17 ia mengatakan perihal "hikmat yang dari atas." Di sini, kata "dari atas" berarti dari Allah. Segala sesuatu yang datang kepada kita dan berasal dari Allah pastilah menjamah roh kita (bd. Yoh. 4:24).

Ayat 17 mengatakan hikmat yang dari atas adalah lembut. Lembut berarti lemah lem­but, lunak, ramah tamah. Lembut juga mengandung arti mengalah. Penurut, atau patuh; yaitu bersedia untuk pa­tuh, puas dengan apa yang lebih sedikit daripada yang se­mestinya. Selain itu, belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Inilah sifat-sifat yang berasal dari hikmat yang masuk ke dalam roh kita yang asalnya dari atas. Jika kita ingin memiliki hikmat ini, kita perlu berdoa untuk hal ini.

Disadari atau tidak, penghalang terbesar dari doa-doa kita adalah keterlibatan kita dalam pelesiran, dunia, dan godaan si Iblis. Itulah sebabnya dalam 4:1-10 Yakobus kemudian berbicara mengenai menanggulangi pelesiran, dunia, dan Iblis. Dalam 4:4 Yakobus mengguna-kan kata "orang-orang yang berzina" (ay. 4, Tl.). Allah dan Kristus adalah Suami kita (Yes. 54:5; 2 Kor. 11:2). Kita seharusnya murni dan me­ngasihi Dia saja dengan seluruh diri kita (Mrk. 12:30). 

Persahabatan dengan dunia adalah kasih terhadap dunia untuk kesenangan daging. "Dunia" adalah sistem Iblis. Bahasa Yunani un­tuk dunia, kosmos, mengacu kepada suatu sistem bentukan Iblis untuk meram­pas manusia dan menentang Allah di bumi.

Dalam 4:5 Yakobus meneruskan ucapannya, "Roh yang berhuni di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!" (Tl.). Ketika Allah men-dapatkan kita menjadi istri-Nya, Dia menaruh Roh-Nya ke dalam kita un­tuk membuat kita menjadi satu dengan Dia (1 Kor. 6:19, 16-17). Dia adalah Allah yang cemburu (Kel. 20:5), dan Roh-Nya cemburu kepada kita dengan cemburu Allah (2 Kor. 11:2), rindu, mendambakan dengan cemburu, agar kita tidak bersahabat dengan musuh-Nya, dan pada saat yang sama menjadi pengasih-Nya. Kata "berhuni" dalam 4:5 juga boleh diterjemahkan de­ngan "mem-buat rumah-Nya". Roh yang berhuni membuat rumah-Nya di dalam kita agar Dia bisa menduduki seluruh diri kita (lihat Ef. 3:17) bagi Allah, supaya kita sepenuhnya bagi Suami kita.

Sebarkan ke:
< Back
Artikel Terbaru